Sunday, December 03, 2006

Merdeka?

Banyak hal yang terpikir tentang 17 Agustusan, kemerdekaan, perjuangan dll. Tapi saya tidak bisa menarik hubungannya. Saya tulis saja per alinea yang maaf saja kalau tidak berhubungan, tapi terpikir setiap lihat iklan-iklan dirgahayu kemerdekaan tahun ini.

Yang saya tahu, penjajahan Belanda awalnya datang bukan sebagai sebuah 'entity' negara, tetapi perusahaan, namanya VOC. (tidak peduli apa kepanjangannya yang pasti buntutnya 'companie'). Kelak setelah Inggris sempat mampir menggantikan VOC, Belanda masuk lagi, yang walaupun sudah masuk dengan sahih berbentuk sebuah negara menduduki negara (kerajaan-kerajaan) lain. Konon VOC sudah bangkrut akibat korupsi. Tetap saja, yang masuk 'menyedot' kekayaan nusantara ini berbentuk perusahaan swasta. Bentuknya perkebunan, perdagangan, dan kemudian pertambangan. 'Entity' negara Belanda jadi apa? menyumbangkan administrasi wilayah dan tentara untuk jadi 'satpam' yang mengawal kelangsungan eksplorasi perusahaan-perusahaan tadi. Tidak heran, dengan hukum ekonomi 'modal sekecil mungkin untuk untung sebesar mungkin' penjajahan ala perusahaan swasta yang pasti efisien, tidak akan memberi banyak timbal balik untuk daerah jajahannya. Alhasil, efeknya masih terasa sampai hari ini. Tidak perlu dijelaskan efeknya, anda yang mengerti bahasa Indonesia pasti mengerti pula.

Jadi ingat cerita teman yang bekerja di pulau paling timur di negara yang katanya merdeka ini. Tanah adat masyarakat setempat yang begitu kaya mineral, cukup ditukar dengan 2 (dua) ekor babi agar perusahaan penambang swasta asing bisa mengeksplorasinya. Kalau ada masyarakat atau pemuka adat yang pintar sedikit dan minta lebih banyak karena mengerti nilai ekonomi tanah tersebut, 'satpam' akan datang dan tahu sendiri akibatnya. Demikian pula di ujung barat daya negara merdeka ini, ketika (dan masih) terjadi kakacauan, penjagaan terketat ada di sekitar perusahaan swasta asing yang juga bereksplorasi, bukan di sudut-sudut kampung atau desa. Atas nama kelangsungan investasi katanya. Lain lagi di bagian tengah utara. Banyak anak mati dan penduduk yang berubah menjadi mayat hidup, mati tidak, hidup juga tidak berkualitas akibat makan ikan dari laut yang sudah berwarna hijau hasil cemaran (lagi-lagi) perusahaan swasta asing yang bereksplorasi. Ketika mereka berteriak minta keadilan, 'satpam-satpam' datang lagi, mungkin karena sudah jaman reformasi dan keterbukaan, yang datang bukan 'satpam' berwarna 'hijau' atau 'coklat wereng' tapi berwarna 'putih', "Tidak ada pencemaran!" kata 'satpam putih' tadi. Alhasil masyarakat tempat-tempat eksplorasi tadi tidak makmur dan sedihnya juga tidak sehat.

Mungkin 'merdeka' dan 'reformasi' artinya sama : GANTI PEMAIN.

Tentang perjuangan, entah kenapa tiap disebut kata perjuangan, dari semenjak SD lewat pelajaran dan hingga kini lewat iklan (lagi-lagi) TV. Pasti ada sosok bambu runcing, seragam, baris-berbaris dan sebagainya yang serupa. Penokohan golongan mana yang berjuang sudah jelas. Terlebih jaman orde baru, penokohan ini jadi doktrinasi supaya rakyat tahu pasti siapa yang memberi mereka kemerdekaan sehingga berhak berkuasa.

Teringat lagi saya dengan ucapan YB Mangunwijaya, seorang pastor yang merupakan penulis favorit saya. Dalam wawancara dengan sebuah majalah yang saya baca belasan tahun lalu (jaman SMA kayanya), beliau yang bercerita pengalamannya berjuang bergabung dengan TRIP (Tentara RI Pelajar (?)) berkata (kira-kira, semoga tidak jauh benar ucapannya), "Dulu kami berjuang itu enak. Karena kalah persenjataan, kami cuma bersembunyi, menyerang malam hari lalu lari. Rakyat tempat kami melakukan penyerangan yang kasihan, siangnya Belanda akan datang, membariskan mereka berpanas-panas di siang bolong sambil mengangkat tangan. Padahal merekalah yang memberi kami makan dan minum". (kelak keinginannya membalas jasa masyarakat inilah yang membatalkan niatnya ke sekolah teknik lalu masuk ke seminari. Tapi kemudian tugas belajar kembali mengirimnya ke sekolah teknik)

Tidak mengecilkan 'perjuangan' siapapun, tapi yang 'perjuangan'nya juga besar rasanya jangan dikecilkan.

Jadi 'merdeka'? Belum tentu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home