Friday, April 26, 2013

Stressed Japanese

Catatan kecil perjalanan ke Jepang tempo hari dibuang sayang. Daripada basi terlupa.

Mungkin banyak kita mendengar bagaimana tingginya tingkat stres di Jepang, baik karena tekanan kerja maupun studi. Hal ini kemudian bagi saya ternyata cukup terbukti dengan menyaksikan langsung fenomena 'orang stres', yang apabila diukur dengan waktu kunjungan saya selama 8 hari, hampir setiap harinya bertemu 'orang stres'.

Hari pertama tiba di Kyoto, pertama kali naik bis kota, kami duduk di belakang seorang anak muda kira-kira umur 20an awal yang tampak rapi, bersih dan menyandang ransel. Ia tampak berbicara panjang lebar ditambah gerakan tangan dengan penumpang sebelahnya. Semuanya tampak normal sampai ketika penumpang sebelahnya tadi turun. Anak muda tadi terus saja berbicara dengan gerakan tangan yang cukup ekspresif seolah menjelaskan sesuatu namun kali ini tanpa lawan bicara, alias 'ngomong' sendiri. Menjadi menarik adalah penumpang lain yang tampaknya terbiasa dengan fenomena ini. Kebanyakan penumpang yang baru naik hanya melirik sesaat lalu kembali tak peduli. Penumpang pun tak sungkan duduk di sebelahnya, selain karena memang tampak bersih, juga 'harmless'. Trayek bis yang kami tumpangi itu, trayeknya merupakan rute melingkar yang jauh. Kami naik hanya sekitar 4 atau 5 stop dari terminal yang merupakan awal rute dan kemudian setelah 'melingkar', kami turun di terminal awal rute tadi. Anak muda itu belum juga turun. Tarif bis itu 'flat rate' 220Y sekali naik-turun. Jadi entah dari kapan dan sampai kapan anak muda tadi menumpang bis tersebut.

Bis kota tampaknya memang favorit 'orang stres' di Jepang untuk sarana aktualisasi diri. Di hari-hari berikutnya, beberapa kali kami bertemu aneka 'orang stres' di dalam bis dan perhentian bis. Kebanyakan hanya duduk-duduk dan berbicara atau tertawa-tawa sendiri. Hanya satu kali yang pernah kami temui di bis dengan penampilan 'lecek'. Itupun naik sebentar lalu 2 atau 3 stop kemudian ia turun tanpa membayar. Supir tampaknya paham dan diam saja.

Di kuil kami juga menemui 'orang stres'. Suatu pagi, kira-kira masih pukul 06.30, kami sampai di sebuah kuil yang cukup terkenal sebagai tujuan turis di kota Kyoto. Suasana masih sepi. Sengaja kami datang pagi-pagi karena saya ingin memuaskan diri foto-foto di 'hotspot'nya yang terkenal antri apabila datang terlalu siang. Herannya, orang yang pertama kali kami temui di pelataran kuil tersebut adalah 'orang stres'. Kali ini agak lebih tua, sekitar awal 40an. Cukup tinggi besar dan gemuk untuk ukuran rata-rata orang Jepang. Rapi, bersih, serta menggunakan setelan kemeja dan pantalon, lengkap dengan tas kerja selempang. Padahal itu hari Sabtu. Dari awal sudah tampak aneh. Ia tampak berjalan tergesa mondar-mandir, berbicara sendiri, memotret, lalu tertawa-tawa, berbicara lagi, kemudian memotret lagi, demikian berulang-ulang. Kali ini interaktif! Orang itu menghampiri kami, berbicara sambil menyodorkan kameranya. Rupanya minta difotokan. Saya bersedia saja karena memang 'gesture'nya tidak mengancam walaupun tidak ramah. Pose fotonya berdiri tegap, macam mengikuti upacara bendera. Selesai difoto, sambil mengambil kameranya, ia meminta kamera yang saya pegang sambil menunjuk-nunjuk ke tempatnya berpose tadi. Rupanya ia mau bantu memotret kami berempat. Saya berikan kamera saya dan kemudian kami sekeluarga berpose. Hasilnya lumayan walaupun agak miring dan tidak center. Setelah saya sampaikan terima kasih, ia berlalu melakukan aktifitasnya semula.

Hari terakhir sebelum kami pulang, 'orang stres' yang kami temui adalah yang paling 'galak'. Ia kami jumpai pagi-pagi di sebuah taman kota di Osaka. Sudah cukup umur, mungkin lewat 50'an. Tampak seperti orang sedang senam pagi, lengkap dengan baju 'training' dan botol minum. Mulai aneh adalah ketika gerakan senamnya 'ngawur' lalu berteriak-teriak seperti memarahi seseorang, kemudian batuk-batuk 'dalam' dan meludah. Hebatnya, walaupun stres, ia meludah ke tempat sampah, tidak sembarangan. Anak-anak kali ini mulai kuatir walaupun belum takut. Ada gilirannya ketika ia melihat ke arah kami dan karena gesturenya memang agak membuat kurang nyaman, saya pelototi balik. Tidak lama ia beringsut melakukan senamnya di sisi balik sebuah pohon.

Konon dari yang saya dengar, di Tokyo yang merupakan pusat kesibukan di Jepang, fenomena ini lebih banyak lagi dijumpai. Sedikit perenungan yang terbersit adalah ketika langkah cepat kemajuan kadang tidak bisa dikejar oleh semua orang. Mudah-mudahan mereka tetap dalam kepedulian orang di sekitarnya tentu juga malah pemerintahnya.

Wednesday, December 26, 2012

Resep 300 Tahun

Gerbang Kota Sakamoto
Satu setengah jam perjalanan dengan tiga kali berganti kereta dari Kyoto, akhirnya kami sampai di kota Sakamoto. Kota Sakamoto adalah satu dari rangkaian kota-kota sepanjang pantai barat Danau Biwa di Prefektur Shiga, Jepang. Kota Sakamoto terletak di kaki timur Gunung Hiei, gunung yang juga berada di sisi timur laut Kyoto. Di Gunung Hiei terdapat komplek kuil besar di bagian puncaknya, Hieizan Enryakuji. Dengan posisi seperti ini, Sakamoto menjadi 'pintu belakang' yang 'melambung' dari sisi timur menuju komplek kuil sementara jalur utama yang berbentuk jalan raya, datang dari sisi selatan Gunung Hiei.

Saya memutuskan berkunjung ke Sakamoto karena ingin menikmati jalur perjalanan yang lebih panjang ke Gunung Hiei. Perjalanan dari Kyoto ke Sakamoto akan sekaligus menyusuri tepian Danau Biwa, danau terbesar di Jepang. Alasan lain yang sebetulnya lebih penting bagi saya adalah adanya sebuah kedai 'soba' tua di Sakamoto. Kedai ini sudah ada hampir selama tiga abad! Selama hampir tiga abad itu, kedai ini mengklaim tetap mempertahankan cara produksi serta penyajian dari hidangan 'soba'. Apa itu 'soba'? Soba adalah jenis mi yang diproduksi dari tepung 'buckwheat'. Jenis mi lain yang umum dikenal di Jepang adalah mi terigu biasa yang digunakan untuk ramen, mirip dengan mi dari cina secara umum. Lalu ada 'Udon', mi terigu dengan ukuran penampang lebih besar dibandingkan dengan ramen.

Saya mengetahui keberadaan kedai ini dari sebuah acara di kanal televisi satelit Singapura beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Jepang. Dengan lokasi yang memungkinkan untuk membentuk sebuah rute perjalanan dalam satu hari yang mencakup berbagai lokasi menarik, saya merencanakan untuk datang berkunjung dengan keyakinan akan mendapat pengalaman menikmati masakan Jepang popular yang orisinal. Dan akhirnya hari itu, sampailah saya beserta keluarga di sana, di "Honke Tsuruki Soba", Sakamoto.

Muka Kedai
Kedainya menempati sebuah bangunan tua dua lantai dengan ruang saji cukup luas. Interiornya sederhana didominasi warna kayu gelap dengan meja kursi bergaya modern tapi sederhana. Kami mengambil tempat di pojok dengan sudut pandang ke seluruh bagian interior. Pelayan yang sejak awal kami datang telah menyambut, tampaknya menyadari ke'turis'an kami dan menyodorkan menu berbahasa Inggris. Istri dan anak-anak saya pilihkan nasi tempura dan semacam nasi yang dimasak berbumbu disertai potongan daging ayam. Saya sendiri memilih 'basic soba set' dengan pendamping tempura dan soba dengan topping jamur yang tampak dimasak seperti semur.

Soba Tempura Set
Musim panas saat itu membuat saya ingin mencicipi soba yang disajikan dingin. Ini akan menjadi pengalaman kuliner baru karena hampir tidak ada masakan 'main course' di Indonesia yang disajikan dingin. Soba set yang kemudian datang, disajikan di atas nampan bambu yang diberi es disertai semangkuk saus soba. Tempura pendamping diletakkan pada piring terpisah yang juga disertai saus tempura pada sebuah mangkuk. Untuk awal, saya cicipi soba tanpa dicelupkan ke saus. Teksturnya 'masir', tidak sesolid mi tepung tapi tidak menjadi lebih mudah putus dengan kekenyalan yang mirip dengan mi terigu. Rasanya yang membedakan soba dengan mi terigu yang biasa kita kenal. Soba memiliki rasa 'nutty' yang cukup kuat untuk bisa dinikmati tanpa saus. Tentu lebih enak apabila dicelupkan dulu pada sausnya yang terbuat dari kecap asin encer (thin soy sauce) dengan samar rasa asam. Sausnya bisa diperkaya dengan rasa dari parutan lobak (daikon) dan wasabi. Puncaknya tentu apabila dipadukan dengan gigitan tempura. Tempura pendampingnya terdiri dari udang, konbu, buncis dan cabai hijau yang lebih besar sedikit dari cabai rawit. Perbedaan utama dari tempura yang pernah saya nikmati di tanah air adalah adonan pembungkus/'batter' yang sangat ringan dengan rasa inti/isi yang masih segar. 'Batter'nya matang sempurna, tidak ada jejak pahit kelewat masak serta renyah. Isian udangnya masih terasa segar (juicy). Demikian pula pada isian konbu, buncis dan cabainya, semua rasa asli masih terasa, tidak rusak oleh panas kelewat masak. Mudahnya menggambarkan, saya contohkan pada kol/kubis mengenai rasa segar dan rasa masak. Ketika kita makan kol mentah, akan ada rasa khas manis segar yang apabila sudah dimasak, baik rebus ataupun goreng, akan ada rasa 'matang' yang cenderung pahit. Nah, keistimewaan tempura ini adalah pada rasa segar (freshness) mentah yang masih kuat. Ada kesan 'batter'nya mampu menghalangi panas mematangkan isian. Dibanding mencelupkannya terlebih dulu pada saus tempura yang kuat rasa jahenya, saya lebih menikmati tempura ini begitu saja tanpa saus.

Soba Topping Jamur
Soba dengan jamur datang dalam sebuah mangkuk dan disajikan dingin. 'Topping' jamur dimasak mirip semur dengan kuah yang sedikit menggenang di dasar mangkuk. Kembali ditambah parutan daikon, wasabi, potongan bawang daun dan konbu. Wasabi saya tepikan karena bagi saya terlalu kuat dominasinya apabila tercampur. Pada menu ini, kembali saya bertemu dengan 'kejujuran' masakan Jepang. Saya mulai mengerti bagaimana hidangan Jepang ingin disajikan. Jamur ternyata hanya dimasak dengan bumbu yang sangat ringan dengan kecap asin yang encer saja. Tampaknya ingin menampilkan rasa asli dari jamur yang khas, seperti aroma 'tengik' pakaian yang terlalu lama disimpan di lemari lembab. Saya sebut saja rasa 'lembab'. Rasa lembab itu kuat sekali, diantar sedikit asin dari kuah kecap asin yang encer. Tekstur jamurnya kenyal, hampir sekenyal 'sari kelapa' dengan permukaan yang licin berlendir. Pengalaman rasa yang cukup aneh namun kaya. Suapan soba yang 'nutty' ditemani potongan jamurnya di mulut akan lebih dulu didominasi oleh rasa soba dan gurih konbu, baru kemudian karena kekenyalannya, rasa jamur yang tampil hingga waktunya menelan. Betul-betul pengalaman kuliner yang memperkaya lahir batin. Kini saya mulai sedikit paham kenikmatan 'kejujuran' pada masakan Jepang. Semua bahan penyusun tampil dengan rasa, tekstur dan pengalamannya masing-masing. Kombinasinya saling memperkaya bukan dengan cara mempengaruhi atau malah mengeliminir antara satu rasa oleh rasa lainnya dan bumbu hanyalah menjadi pengantar. Lagi-lagi contoh mudah adalah dengan menganalogikannya melalui warna. Andai satu bahan kita anggap 'merah' lalu ada bahan lain yang kita anggap 'putih', pada masakan Jepang, masing-masing bahan akan tetap menampilkan 'merah' dan 'putih'nya. Bedakan dengan masakan Indonesia, Cina atau bahkan India yang 'berusaha' meng'infus' rasa bumbu kepada bahan, sehingga ketika 'merah' dan 'putih' bertemu pada masakan mereka, hasilnya adalah sebuah kesatuan 'merah muda'.

Dengan datang dan menyantap hidangan dari sebuah kedai yang mampu bertahan hingga tiga abad dengan mempertahankan keaslian resepnya, saya menganggap ini adalah pengalaman yang cukup sahih dijadikan referensi. Ah ya, tentang harga, masing-masing menu berharga antara 800Y hingga 1200Y. Total bayar untuk 4 macam hidangan adalah sekitar 4300Y termasuk pajak. Porsi cukup besar, dua porsi menu lainnya yang disantap bertiga oleh istri dan anak-anak masih bersisa. Minuman teh 'ocha' hangat ataupun dingin gratis serta bebas mengalir. Sekali lagi, ini sungguh-sungguh pengalaman kuliner yang berharga.

Labels: ,

Wednesday, November 21, 2012

Ke Jepang

Kali kecil di tengah keramaian kota Kyoto
Berawal dari rencana 'gambling' di akhir tahun sebelumnya, ketika sebuah penerbangan mengobral tiket-tiket murah yang non-refundable alias uang hangus apabila batal. Alhamdulillah diberi kelancaran dan juga rejeki kumpul-kumpul bekal sehingga mencukupi untuk sebuah very-very tight budget travelling 'ngangon' anak-anak liburan ke negeri Sakura, Jepang. Keputusan 'gambling' beli tiket itu ternyata berbuah pengalaman yang luar biasa. Walau cuma delapan hari, berkunjung ke negeri yang maju lahir-batin ternyata memberikan tidak hanya pengalaman visual, tapi juga pengalaman bagi batin yang berlimpah.

Kesan positif pertama sudah dimulai dari semenjak mengakses website kedutaan Jepang untuk informasi pengajuan visa. Informasi sangat jelas, form-form 'downloadable' tersedia lengkap dengan petunjuk pengisian termasuk persyaratan pelengkap. Persyaratan pelengkap yang diminta juga sesuai kepentingannya, tidak mempersulit serta tidak mengada-ada. Datang mengurus visa ke kedutaan besar Jepang juga memberikan kesan positif. Mungkin beberapa dari kita yang gemar 'mengurus sendiri' berbagai hal administratif atau birokratif, seringkali menyimpan kedongkolan-kekesalan pada sistem percaloan yang larut lekat pada proses administrasi publik di negeri kita. Bayangkan kita yang sudah antri berjam-jam tiba-tiba didahului oleh calo-calo. Silakan sebut; urus KTP, urus SIM, urus paspor, urus STNK, dll. mungkin hanya 'urus-urus' yang bisa kita lakukan sendiri dengan mudah tanpa diganggu calo. Di kedutaan besar Jepang, loket pengurusan visa langsung terbagi dua; satu yang diperuntukkan bagi yang mengurus sendiri dan bagian lain yang diperuntukkan untuk kolektif (oleh 'calo' dari biro wisata dll), sehingga kita yang datang mengurus sendiri tidak akan merasa terganggu. Proses pengajuan hingga keluarnya visa pun tepat waktu selama persyaratan dipenuhi.

Perjalanan 'self guided' tentunya akan menggantungkan kelancaran perjalanan pada kematangan rencana kita sendiri. Karena yang saya baca bahwa bahasa Inggris sangat jarang dikuasai oleh penduduk Jepang, mau tidak mau saya harus mempelajari sedikit bahasa Jepang untuk membantu kelancaran perjalanan. Disini awal ketertarikan sudah dimulai. Bahasa Jepang sendiri ternyata adalah satu dari sedikit saja bahasa di dunia yang berkaedah S-O-P dalam kalimatnya. Semisal kita biasa mengucap "saya makan tempe" dalam kaedah S-P-O, maka dalam kalimat bahasa Jepang ia menjadi "saya tempe makan". Saya segera membayangkan bahwa bangsa Jepang seharusnya adalah bangsa pendengar yang baik, karena 'P'redikat-lah 'kabar' utama sebuah kalimat. Bayangan panjang saya berikutnya adalah kebiasaan berbahasa seperti ini seharusnya bermuara pada kebudayaan yang 'paripurna'; selalu selesai. Dan kemudian bayangan saya tersebut ternyata tepat.

Bagi saya pribadi dan rasanya juga bagi anggota keluarga yang ikut, perjalanan ke Jepang menjadi sebuah wisata 'Peradaban'. Sightseeing dan kuliner hanya menjadi bonus pelengkap. Begitu istimewanya sehingga anak-anak kami yang masih berumur 7 dan 9 tahun cepat menangkap 'selisih' peradaban di Jepang dengan di negerinya. Masalah kebersihan atau kedisiplinan antri 'sih' tidak perlu dibahas lagi; tidak lagi istimewa, tapi berbagai hal lain lah yang akan saya coba ceritakan.

Memasuki antrian imigrasi setelah mendarat di bandara 'Kansai', saya langsung merasakan efisiensi sistem. Pada antrian yang dikelok-kelokkan karena panjangnya, ada petugas-petugas yang 'berkeliaran' menyusuri antrian memeriksa kelengkapan. Kalau saya amati, mereka yang datang sebagai turis dan sudah mengisi kartu kedatangan dengan lengkap, segera ditarik keluar dari antrian dan didahulukan ke loket-loket imigrasi. Kami sendiri mengalami, ketika petugas 'penyusur' tadi mendekat, saya sapa duluan "we are family, tourist" sambil saya sodorkan paspor-paspor kami beserta kartu imigrasi. Dia periksa semua paspor dan kartu imigrasi yang memang sudah saya isi lengkap serta teliti, kemudian dia buka tali jalur antrian dan menyilakan kami langsung ke meja loket imigrasi. Lumayan,  mendahului kira-kira 10 meter antrian. Kebanyakan pengantri masih belum mengisi kartu imigrasi dengan teliti, utamanya karena kartu tersebut harus diisi bolak-balik. Banyak yang hanya mengisi di satu muka saja atau tidak melengkapi alamat tinggal di Jepang. Total waktu mengantri hingga selesai proses imigrasi bagi kami tidak lebih dari 15 menit dengan antrian yang sedemikian panjang.

Integritas profesi luar biasa. Ketika kami hendak naik kereta api dari airport ke kota, kereta yang sudah datang dari perjalanan sebelumnya tidak boleh langsung dinaiki. Dibersihkan dan arah kursi-kursi dibalik menghadap arah perjalanan. Prosesnya efisien, kira-kira 10 menit. Selama 10 menit itu, ada seorang berseragam dengan topi khas mengarahkan posisi antrian satu demi satu di depan tiap pintu masuk gerbong. Tidak boleh bergerombol mungkin katanya, melainkan harus selajur dan bila perlu berbelok. Saya pikir dia semacam security stasiun atau staf stasiun, ternyata kemudian, orang tersebut adalah kondektur yang memeriksa karcis penumpang. Menariknya, ketika kondektur itu masuk ke gerbong untuk memeriksa karcis setelah kereta melaju, tindakan pertamanya adalah membuka topi, lalu membungkuk memberi hormat sambil berbicara sesuatu dalam bahasa Jepang. Kelihatannya memperkenalkan diri, tujuan kereta dan dimana saja nanti kereta akan mampir. Disini anak-anak saya sudah heran melihat tata cara kerja kondektur itu. Cara bekerjanya pun santai tapi pasti, setiap kursi ditegur dulu dalam bahasa Jepang, mengobrol singkat sambil mengecek karcis sekaligus membolongi seperti halnya di sini. Ketika sampai di kursi kami, kondektur tetap membuka percakapan dengan bahasa Jepang. Seperti yang sudah saya hapalkan sebelumnya dalam bahasa Jepang, saya katakan bahwa saya tidak bisa bahasa Jepang. Segera dibalasnya dalam bahasa Inggris, "darimana?" lalu "mau kemana?". Setelah saya jawab, berikutnya kondektur itu hanya mengatakan "have a nice time in Japan" dan berlalu tanpa memeriksa karcis kami. Saya amati, semua penumpang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang karcisnya tidak diperiksa, hanya diajak ngobrol ramah dalam bahasa Inggris. Sebelum meninggalkan gerbong ke gerbong lain, kembali kondektur itu berdiri di bagian muka dan sebagaimana awal ketika masuk, ia membuka topi, membungkuk dan mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Jepang baru kemudian berlalu ke gerbong berikutnya. Keheranan kami berlanjut ketika akan meninggalkan peron. Di gate tempat mengembalikan karcis ada dua orang yang masing-masing berdiri di ujung jejeran gerbang itu yang terus menerus membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua, ya semua, penumpang yang meninggalkan peron. Tidak membungkuk penuh seperti posisi rukuk, tapi cukup membentuk sudut di pinggang, tidak hanya sekedar menundukkan kepala. Saya hanya penasaran, koyo tempel untuk 'boyok'nya mereka pakai merk apa. Kalau kemudian kami pikir hal seperti itu hanya ada di stasiun kereta antar kota, ternyata tiap gerbang keluar subway di dalam kota pun, ada petugas yang berfungsi membungkuk mengucapkan terima kasih. Kalau penumpang lokal mungkin sudah biasa mengacuhkan, anak-anak kami senang untuk selalu membalas ucapan "arigato" sambil melambaikan tangan kepada para petugas itu.

Kebetulan lagi di kota Kyoto, kami mengalami dan melihat 'prosesi' kecil pergantian 'shift' pengemudi bis kota. Mulanya agak aneh, mengapa bis menepi tidak di sebuah penghentian sebagaimana biasa. Kemudian supir berdiri, menghadap penumpang, melepas topi lalu berbicara beberapa kalimat, membungkuk ke arah penumpang lalu mengambil semacam plang yang saya duga bertuliskan nama pengemudi itu yang tadinya disematkan di bagian atas pintu keluar di depan, kemudian turun. Di luar sudah menunggu pengemudi lain dan lalu mereka saling membungkuk, saling berbicara agak santai dan bertukar semacam map kecil. Pengemudi baru yang kemudian masuk ke dalam bis, kembali membuka topi, membungkuk ke arah penumpang dan berbicara beberapa kalimat kemudian memasang plang nama di tempatnya. Kemudian bis kembali berjalan.

Banyak hal lain yang menjadi pengalaman menarik bagi kami dari segi interaksi dengan masyarakat setempat. Sekali waktu ketika kami harus berpindah kereta untuk sampai tujuan ke kota kecil di luar Kyoto, saya bertanya pada seorang ibu apakah pemberhentian berikutnya adalah tempat kami turun berganti kereta. Ibu itu mengiyakan sambil menjelaskan sesuatu dalam bahasa Jepang yang tentu saya tidak mengerti. Saya hanya 'bengong' mengamati wajahnya. Rupanya ia menangkap kebengongan saya lalu kemudian ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya yang tadi saya tanyakan, ia pun turun sembari mengajak kami. Ia berjalan di depan menuntun kami berpindah peron. Dalam bahasa Jepang bercampur bahasa tubuh, saya mengerti bahwa ibu itu memberitahukan bahwa kami harus menunggu di peron ini untuk kereta ke arah tujuan akhir. Setelah saya ucapkan terima kasih dan saling membungkuk, ibu itu kembali ke peron semula dimana kami sebelumnya turun. Rupanya ia kembali akan naik kereta ke arah yang semula kami naiki, tentu kereta yang semula kami naiki tadi sudah pergi. Rupanya ibu tadi dengan baik hati mau turun untuk kemudian naik lagi kereta berikutnya hanya untuk menunjukkan peron, memastikan kami tidak salah naik. Kaget juga sampai sebegitu baiknya. Walaupun memang sebetulnya kereta lokal datang kira-kira 5 menit sekali, ibu tadi hanya akan kehilangan waktu sekitar 5 menit.

Pengalaman menarik lain terjadi karena setiap kami masuk tempat makan, saya selalu menghampiri kasir atau counter pelayan untuk menanyakan apakah di tempat itu menyajikan daging babi, karena kami tidak makan daging babi. Kalau di kota besar Osaka dan Kyoto, terutama di daerah turis, tampaknya mereka sudah terbiasa sehingga langsung paham dan menunjukkan mana-mana dalam menu yang tidak mengandung babi.
Karena rencana perjalanan kami memang keluyuran ingin melihat kehidupan lokal, sampailah kami di sebuah kota kecil lain di pinggiran Kyoto. Kami mampir ke sebuah toko roti dan donat. Di dalam, saya melihat sebuah roti berisi sosis yang tampak enak betul. Kembali saya menanyakan jenis daging yang digunakan. Hasilnya heboh! Mungkin karena pelayan tidak paham, ia tanya ke dapur. Dapur juga tampaknya tidak tahu pasti. Lalu tanya lagi ke semacam manajer yang juga tidak bisa memastikan yang lalu masuk lagi ke dalam, entah menelepon atau melihat daftar barang. Cukup makan waktu beberapa menit. Sementara di counter waktu itu sudah berkumpul beberapa pelayan dan juru masak. Ramai. Sayangnya saya tidak belajar untuk berkata "sudah tidak jadi saja". Bilang "dont mind" juga tidak ada yang mengerti. Baru kemudian si manajer tadi muncul lagi dan berkata girang "gyuniku des!" katanya yang artinya daging sapi. Semua tampak senang. Tinggal saya yang semula hanya ingin cicip satu buah, jadi tidak enak hati cuma mau beli satu setelah merepotkan sekian banyak orang. Akhirnya saya terpaksa beli tiga roti sosis. Enak juga, tapi mahal bila di-kurs.

Budaya paripurna Jepang terasa sampai hal-hal kecil. Paling mudah dilihat pada lintasan-lintasan pejalan kaki. Trotoar selalu diberi pinggiran/border. Jalan raya aspal selalu ada pinggiran sebelum bertemu trotoar. Istilah desainnya, selalu ada peralihan ketika dua entitas bertemu, tidak ada yang sekenanya ditabrakkan. Bangunan selalu berdiri dengan ritme "kaki-badan-kepala" dengan proporsi yang enak dilihat, bahkan sampai bangunan-bangunan kecil di pinggiran kota, baik itu rumah, gedung, los pasar, gapura bahkan jembatan. Untuk yang paham dan dapat mengapresiasi desain, mata akan sangat dimanjakan melihat lingkung-lingkung binaan di berbagai sudut dengan berbagai fungsinya.

Berkunjung ke Jepang memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Betul-betul lahir batin. Jauh kualitas peradabannya dibandingkan dengan Singapura misalnya. Terasa betul kalau modernitas Singapura sama sekali tidak bernyawa/'soulless'. Tetapi terus terang saya menyesal juga datang ke Jepang, -macam 'gombalan' orang tua 'katrok' tentang pernikahan-, andai saja bisa dilakukan dari dulu-dulu, 10-15 tahun yang lalu-lah, tentu bisa memberi pemahaman dan motivasi lain bagi diri sendiri. Tapi juga sangat puas bisa bawa anak-anak berkunjung ke sana ketika mereka kecil tapi sudah cukup mengerti. Tampaknya pengalaman ini bagi mereka cukup tertanam. Semisal ketika kami terpana pada situasi sungai di tengah keramaian kota Kyoto yang jernih dengan aneka ikan dilengkapi sejenis burung bangau yang hilir mudik mencari mangsa, spontan mereka berkomentar dan paham bagaimana ini bisa terjadi. "Di Bandung pasti ikannya sudah ditangkapi ya? Burungnya pasti sudah ditembaki lalu dimakan. Tidak mungkin ikan bisa hidup di sungai penuh sampah". Si bungsu pun kalau sekarang ditanya cita-citanya, "...mau sekolah dokter di Jepang sambil 'nyambi' jadi guru TK".

Sebetulnya masih banyak sekali yang bisa diceritakan tentang kunjungan 'free & easy' kami kemarin di Jepang. Entah berapa banyak tulisan yang bisa dibuat mengenainya. Mudah-mudahan lain waktu saya bisa sambung dengan cerita tentang hal lain pengalaman kami di sana, termasuk bahwa dalam pengamatan saya,  sebetulnya masyarakat Jepang juga punya beberapa kelemahan dibanding masyarakat kita. ...Ciyus!? Miyapa?!

Labels:

Friday, February 10, 2012

Makan ke Surabaya

Surabaya! Seumur hidup, lebih kurang hanya tiga kali saja ada kesempatan berkunjung ke kota ini. Dua di antaranya bahkan tidak menginap, datang dengan flight siang lalu pulang dengan flight sore.

Kunjungan rangka kerja kali ini, syukurnya sudah ada rute bolak-balik dari Merpati Airlines yang berangkat dari Bandung cukup pagi, sekitar pukul 06.00 lalu kembali sekitar pukul 16.00. Panjang sekali waktu tersedia di Surabaya untuk... Makan!!

Mendarat kira-kira pukul 07.00 pagi, naik taksi dengan tujuan penting pertama; Pecel Bu Kus untuk sarapan, lokasi daerah Baratajaya dekat Hotel Nagoya. Pecel kumplit dengan lodehan pisah. Pecel Madiun'an ini betul memuaskan lidah yang kesulitan menemukan pecel enak di kota Bandung. Bumbu kacang kental melimpah, ditaburi serundeng gurih, mlandhingan, dan lalab favorit daun kemangi. Jarang didapat pada makanan di Bandung; kecambah yaitu taoge yang baru sedikit saja keluar 'buntut'nya. Lodehannya terasa seperti sambal goreng yang encer. Pedas, gurih sekaligus segar. Isinya potongan tahu, tempe, dan kacang talo. Ada semburat wangi petai sedikit. Rempeyek kacangnya mantap. Tampak tebal seolah keras, ternyata renyah luar biasa. Cukup dengan es teh pahit, total bayar hanya Rp.18 ribu.

Lanjut urusan kerja mengunjungi vendor. Siapa suka kerja? Tidak ada. Kecuali uangnya. Cukup disudahi dan pukul 11.00 sudah kembali di atas taksi menuju tujuan berikutnya; Rawon Srikandi di sekitar Keputran. Rawon ini mantap. Betul-betul 'kemrawon' dan 'ngrawoni'. Tidak disesuaikan untuk rasa comfort seperti rawon 'setan' yang terkenal itu. Bumbu rempah dan kluwek tampil kuat. Porsi daging campur dengan empal, jadi ada dua potong daging rebusan di kuah rawon dan dua potong daging kering. Lagi-lagi kecambah yang renyah dan segar serta sambal terasi pedas masam mantap menemani. Harga porsi berikut nasi dan teh pahit, Rp.14 ribu.

Kembali kerja? itu anda, saya tidak. Tujuan berikutnya Sate Ondomohen, Jl.Walikota. Tidak semua yang enak dicampur-baurkan akan menjadi tambah enak. Daging sate berbalut kelapa yang gurih, bumbu kacang kasar yang manis-gurih serta taburan serundeng manis. Sebaiknya disantap terpisah; sate disantap keringan lalu disusul lontong yang dicelupkan bumbu kacangnya atau dibalur serundeng. Mantap. Tak lupa dibungkus untuk dibawa pulang. Harga porsi isi 10 tusuk daging tanpa lemak dengan lontong, Rp.16 ribu.

Baru kemudian kembali kerja? oh itu anda lagi, saya tidak. Tujuan berikutnya Ayam Goreng Pemuda. Sudah dipastikan sebelumnya ini cabang asli, bukan pecahan. Cicip satu potong tanpa nasi dan bungkus beberapa potong dibawa pulang. Kesimpulannya; ayam goreng yang konon dianggap icon Surabaya ini, tidak ada apa-apanya dibanding 'old eshtablishment' ayam goreng di Bandung. Enak, tapi kalah mantap dibanding ayam "Panaitan", "Indrawati", "Tempo Dulu" atau "Raos" di Bandung. Satu-satunya kelebihan ada pada sambal yang manis tapi pedasnya tetap mengigit.

Nha sekarang kembali kerja? oh lagi-lagi itu anda, saya pulang. Tak lupa membeli sambal "Bu Rudi", sembari 'nodong' minta kantong plastik besar untuk menggabungkan semua bawaan.

Take-off dan landing smoothly di Bandung menjelang maghrib. Surabaya luar biasa!

******************************

Dua minggu kemudian, kembali ke Surabaya. Penerbangan yang sama. Sarapan yang sama. Pecel Bu Kus yang sayangnya kualitasnya hari itu turun cukup signifikan. Bumbu kacang agak encer dengan warna lebih terang dan rasa yang lebih hambar. Demikian pula lodehannya yang tidak segarang sebelumnya menampilkan rasa pedas gurihnya. Rempeyek tetap mantap.

Lanjut urusan kerja finalisasi dengan vendor. Siapa suka kerja? Tidak ada. Kecuali gajinya. Cukup disudahi dan pukul 11.30 kembali naik taksi tujuan Mulyosari. Beli kue lapis/spikoe Livana yang terkenal sekaligus cicip lontong capgomeh di ujung gang Mulyosari Satu yang konon salah satu terenak di Surabaya. Betul-betul mantap. Pilih ayam opor sebagai pendamping. Kuahnya kental, gurih tapi enteng. Opor ayamnya padat, tidak lembek, mungkin ayam kampung. Serundengnya betul-betul pas, tanpa mengambil alih dominan rasa dari kuah lontongnya. Istimewa. Lebih enak dari lontong serupa di Bandung yang pernah dikunjungi. Harga perporsi dengan Air mineral botol 500ml, Rp.14 ribu.

Perjalanan ke Mulyosari yang cukup jauh dan memakan waktu, diseling macet demonstrasi di sekitar pusat kota, membuat kunjungan berikutnya kembali ke Sate Ondomohen sangat terlambat. Hanya sempat membungkus dengan semua bagian dipisah; sate keringan, bumbu kacang, dan serundeng lalu agak diburu waktu kembali ke arah airport. Pulang.

Tak lupa sambal "Bu Rudi", kali ini dua botol dan tentunya 'todongan' dua kantung plastik besar.

Catatan perjalanan kali ini terutama untuk penerbangannya, dari beberapa penerbangan yang pernah ditumpangi untuk landing di Bandara Husein Sastranegara Bandung, a.l Sriwijaya Air, Air Asia, dan Wings Air, dua kali pendaratan dengan Merpati Airlines adalah pendaratan yang termulus. Landasan pendek yang biasanya mengakibatkan pengereman cukup keras mendorong badan ke depan hingga terasa kurang nyaman, tidak terjadi dengan pesawat milik Merpati. Pilotnya jempolan. Tapi memang ketika pesawat diputar untuk memasuki area parkir, tampak bahwa ujung landasan sudah sedemikian dekat. Mantap!

Surabaya dan Merpati Airlines luar biasa!

Monday, October 24, 2011

Lampu... Lampu...! *grépé-grépé-grépé

Kecuali sudah berniat mampir ke satu titik di antara titik berangkat dan tujuan, sepanjang perjalanan dengan kendaraan bermotor hanya melalui koridor-koridor mati. Tanpa interaksi. Mungkin kita baca rambu-rambu dan papan-papan iklan maupun nama toko sepanjang jalan. Ribuan orang mungkin ditemui sepanjang jalan. Lagi-lagi hanya latar gambar dari jendela atau seruang kecil pandangan bukaan helm. Kecuali dengan pengasong atau pengamen atau pengemis, masih ada interaktifitas (?) -lambaian tangan tanda menolak atau meraih lalu memberikan sekeping uang logam-.

Tanpa sadar, "ketemu di jalan" jadi sesuatu yang istimewa. Berpapasan atau bersisian kendaraan dengan kenalan dan kerabat adalah kebetulan yang istimewa. Jadi jeda aktifitas di antara kepasifan interaksi dengan ruang luar sepanjang perjalanan.

Awal tahun 2000'an, jauh sebelum Undang-undang mengenai kewajiban menyalakan lampu utama bagi sepeda motor diberlakukan, saya selalu mengendarai sepeda motor dengan lampu utama menyala. Bukan alasan keselamatan, tapi ada kerusakan yang menyebabkan klakson dan lampu sein (sign) tidak menyala apabila switch lampu utama tidak dalam posisi hidup.

Semenjak kondisi itu berlangsung, perjalanan saya menggunakan sepeda motor menjadi sangat interaktif. Sepanjang jalan rute-rute yang biasa saya lalui selalu mendapat 'sapaan' dari orang-orang. Bentuknya berupa kode tangan "grépé", telapak tangan yang diacungkan lalu dikatupkan saling menyentuh semua ujung jari, -bukan mengepal-, berulang-ulang. Seringnya diiringi teriakan, "lampu..!". Itu tanda mereka mengingatkan bahwa lampu utama hidup karena kala itu seharusnya lampu kendaraan mati di siang hari. Menurut mereka barangkali, pengemudinya lupa mematikan, yang dapat mengakibatkan aki tekor. Sungguh sosial, peduli dan baik hati.

Mulanya saya selalu balas dengan teriakan, "rusak!" sambil menunjuk ke arah lampu, kelamaan saya cukup mengacungkan jempol tangan kiri saja. Tanda terima kasih atas peringatan yang disampaikan.

Menariknya kemudian, karena saya melalui rute yang itu-itu saja, ternyata mereka yang sering memberi tanda dari pinggir jalan jadi hafal pada saya. Mungkin juga tampilan berkendara saya yang khas. Makhluk besar 183cm/120kg mengendarai Honda Win kecil dengan lampu selalu menyala, -beruang sirkus bermotor kabur-. Warung yang saya hampiri beli tisu, tambal ban ketika kempes, penjual tepi jalan ketika mengisi pulsa, pengasong di persimpangan sewaktu terhenti lampu merah, semua akrab menyapa. Pertanyaan selalu mirip, "Mengapa lampunya hidup terus?". Saya jadi sosok akrab. Jalan menjadi lintasan yang akrab.

Belakangan, setelah Undang-undang mewajibkan lampu sepeda motor hidup di siang hari, jalanan kembali menjadi latar mati. Tak ada lagi sapaan "grépé" yang akrab mengingatkan. Tapi semoga memang banyak nyawa terselamatkan oleh undang-undang tersebut.

*foto dicuplik dari Media Indonesia

Monday, October 17, 2011

Kupat Tahu

Baru saja selesai sarapan 'kupat tahu' yang dibungkuskan istri sembari pulang mengantar anak-anak sekolah. Kupat tahunya gagrak Tasikmalaya; potongan ketupat dan tahu digoreng 'medium rare' lalu ditaburi tauge (bukan kecambah) yang dari 'nyakrek'nya pasti hanya dimatangkan dengan sekedar dicelupkan ke air panas, lalu disiram bumbu kacang halus encer dengan sedikit kecap. Rasanya condong manis.

Sambil sarapan tadi, jadi ingat pertama kali mampir di lapak penjual kupat tahu tersebut hampir 2 tahun lalu.

Waktu itu langganan kupat tahu sarapan kami berlokasi kira-kira dua perempatan sebelum lapak kupat tahu yang sekarang kami langgani. Di seberang pasar tradisional terdekat dari rumah. Biasanya dibeli oleh pembantu rumah tangga yang sekalian belanja pagi. Kemudian ketika anak sulung kami masuk SD, rute pulang-pergi mengantar-jemputnya melalui lapak kupat tahu yang kemudian kami langgani tadi. Beberapa kali terlihat lapak itu selalu penuh antrian. Penasaran, akhirnya sempat juga kami mampir.

Lapaknya sederhana, ruang kecil dengan dua set meja-bangku kira-kira 3x4 meter saja. Gerobak yang sudah statis menjadi area saji, ada di paling depan. Waktu itu mungkin karena bentuk gerobak dan tampilan 'signage' yang mirip, membuat istri saya membuka percakapan dalam bahasa Sunda dengan penjualnya, yang pasti adalah juga juragan pemilik lapak;

Istri saya (i) : Mang, ini sama nggak dengan yang di **** (langganan kami sebelumnya) ?
Penjual (p) : Sama neng kupat tahunya.
(i) : oh berarti yang di sana punya mang juga?
(p) : bukan neng.
(i) : lho katanya sama?
(p) : iya sama kupat tahunya, tapi bukan punya mang.
(i) : saudara?
(p) : bukan, orang lain aja itu mah.
(i) : beda dong mang.
(p) : ah tapi sama juga enaknya yang sana mah neng.

Di jaman kapitalisasi dan persaingan bebas macam sekarang, tanggapan penjual kupat tahu tersebut terhadap persaingan luar biasa. Betul-betul kontra marketing. Death of marketing tanpa perlu kirim peti mati tapi bikin happy.

Walaupun kemudian setelah dicicipi rasanya tidak lebih istimewa dari langganan kami sebelumnya, kami pindah dan masih berlangganan sampai pagi ini.

Labels: