Monday, December 18, 2006

OHITAS

Disampaikan tanpa mengecilkan siapapun.

OHITAS, Orang HIdup Tanpa berAS. Tidak ada simbol pita merah (red ribbons) buat mereka, tidak ada videoklip massal artis buat mereka, dan tidak ada statistik tiap berapa detik pertambahan mereka di negeri kemplu tapi tercinta ini.

Sementara geleng-geleng kepala lihat anunya YZ yang antara ada dan tiada, manggut-manggut lihat poligamet Aa G atas nama pertolongan, decak-decak lihat AR tewas di hotel, dan tentunya selangkangan kaku lihat payudara dan selangkangan ME, kita jadi lupa ada hal penting gak penting, gawat gak gawat di dekat kita.

Beras yang minggu lalu sekilo cuma rupiah 4000an, sekarang mendadak naik ke rupiah 5500an, mungkin tidak problem buat anda yang baru bingung kalau pertamax dan pertamax plus untuk mengisi mobil muda anda kembali naik ke rupiah 6000an atau mungkin baru bingung kalau bandrol rokok yang anda hisap naik 30% tahun depan. Saya juga biasanya tidak bingung atau sok sosialis, saya penganut faham kapitalis 'no pain no gain' dan 'no sweat no meat'.

Yang membuat heran adalah bagaimana 'wong lali kang begja' di atas sana bukannya cepat menolong OHITAS tapi malah silih tuding mencari kambing hitam. "Februari harga beras akan kembali normal..." katanya. Lha kalo mati kelaparannya tanggal 24 atau 25 Januari bagaimana? Beras OP (Ono Pasire) dijual rupiah 4500 - tetap mahal, sepi pembeli atau malah diborong orang untuk dijual lagi. Terus yang OHITAS tadi bagaimana dapat berasnya? tindakan kok tidak kena sasaran.

Akibat yang cukup terasa, nasi goreng Tegal di prapatan dekat rumah naik jadi rupiah 6000 sepiring dari rupiah 5000. Itupun dari nasi yang agak kuning. "...gak apa mas, banyakin kecap nggak terasa bedanya" kalau ditanya kualitasnya. Kalo kecapnya ikut naik bagaimana? mungkin jawabnya "banyakin minyak goreng". Kalo minyaknya ya ikut naik? "banyakin berdoa". Pasti di rumah juga sudah terimbas susah kalo semuanya naik.

Sesuai saran presiden SBY gadungan di sebuah acara TV (yang sekertaris wapresnya makin cantik aja), mari kita bentuk yayasan peduli OHITAS simbolnya karung beras ukuran 25 kilo dipotong jadi rompi. Agenda pertamanya menyerukan mogok makan. Supaya demand turun dan supply lebih, jadi harga bisa turun. Semboyannya 'Horas Bah!'-"Habis Beras Makan Gabah!"

Boleh tidak ya kurban wedus diganti beras saja? lagian mana enak gule wedus dimakan dengan tiwul atau malah digadon mentah oleh mereka yang berhak wong minyak tanah juga susah. Lebih enak ada nasi walau gule wedusnya cuma kikil thok. Ah mbuh... memangnya sedang punya lebih untuk kurban? mohon didoaken.

Friday, December 08, 2006

Sabda Aa

Dan Aa bersabda, "Jika wanita cinta pada satu pria, dia sulit cinta pria lain. Sebab softwarenya memang begitu!”

tapi... yang penting kan 'hardware'nya... Betul tidak...? Betul tidak...? Ha...?

Wednesday, December 06, 2006

...uvwXXX YZ

Dasar nasib pekerja mandiri wira-wiriswasta. Kuantitas waktu tidak punya, kualitasnya apalagi. Akibatnya? setelah heboh lewat dari seminggu, video 'DPR Membara' baru sampai di tangan dari seorang kawan. Prestasi jelek mengingat biasanya saya yang di'nara sumber'i kawan-kawan bila yang 'membara-membara' begini muncul.

Tontonannya sungguh memalukan! Ini benar-benar mencoreng wajah dan perut kami para tambun, bukan Tambunan, tapi perut tambun. Susah payah para tambun dipimpin duta utamanya Bp. Joey Silvera alias Pablo alias JS, untuk menepis kedengkian kaum kurus yang tak mampu menimbun lemak yang menyebar isu bahwa 'tambun = mini'. Kok tega-teganya oknum tambun YZ tampil 'shooting' tanpa benang dengan 'pacul' hanya sekitar 3-4 pixel saja di '3gp player' pada monitor 17 inci yang saya setel resolusi 1024x768.

Pikir-pikir, kecil saja sudah pede dan membuat repot, apalagi besar? atau mungkin makanya tidak dikasih besar.

Harusnya oknum YZ cepat-cepat pergi ke selatan Garut bertemu mak Erot sang penguasa
relativitas dimensi, kemudian lakukan jumpa pers untuk menyanggah. "Itu bukan saya!!!", "Ini buktinya... ni.. ni.. lihat ni..", "pojok sana mau lihat juga? ni..."

"Anda yang lagi baca juga mau lihat?"

"ni..."

Sunday, December 03, 2006

Lakon Mbah Bumi Pensiun

Mbah Bumi, nyawa sang dunia-pemutar rotasi bumi, tergopoh-gopoh naik ke atas langit. Hak protokolernya cuma sampai langit ke enam.

"...Kawulo menghadap Gusti..." sambil menekan tombol interkom menghubungi penghuni lapis langit ke tujuh.

"Ono opo?" sahut suara di balik sana.

"...Kawulo menyerah Gusti..." sahut mbah Bumi lesu.

"lah dhalah... ono opo maneh tho? 2 Milyar tahun ta'pasrahi planet ciptaan yang paling indah kok malah menyerah barang kuwi ono opo?" tanya suara di balik interkom lagi.

"...Sudah mboten sanggup Gusti... dawuh Gusti untuk memberi cobaan dan peringatan pada penghuni kesayangan-Mu tidak ada hasilnya..." jawab mbah Bumi lagi sambil jari telunjuknya sedikit bergetar menekan tombol interkom. "10 ribu tahun terakhir memelihara khalifah titipan Gusti betul-betul berat, tahun-tahun belakangan mereka tidak sama lagi Gusti... terutama niku engkang diciptakan dengan kulit sawo matang"

"Tidak sama piye tho... wong ndak ada revisi buat mereka, tetap versi 1.0 seperti mbah-mbahnya dulu"

"...ngampuro Gusti, tapi betul-betul berbeda. Cobaan dan peringatan Gusti lewat kawulo sudah tidak berarti" sergah mbah Bumi.

"leh... leh... leh... tidak berarti piye tho kowe ki... mosok iya cobaan dan peringatan sudah tidak berarti?"

"...ngampuro Gusti, tapi begitu keadaannya, kawulo betul-betul menyerah dan minta pensiun" pasrah mbah Bumi lagi.

"Memang kowe beri cobaan bencana apa? longsor? banjir? angin ribut?" tanya suara dari interkom.

"...sampun Gusti, cuma sadar satu-dua hari setelah itu nyeleweng lagi, ndak sungkan makan hak orang lain"

"leh! sudah dicoba dengan gempa?" tanya suara dari interkom lagi.

"...sampun Gusti, sudah bonus tsunami. Malah lebih banyak yang bergembira tertawa-tawa dapat proyek bencana"

"Weleh! sudah dicoba dengan mbledhosi gunung?" tanya suara itu lagi.

"...sampun Gusti, sudah bonus wedus gembel sekaligus gempa bumi. Ndlalah malah lebih girang korupsi dana bencana, tidak perlu jauh korupsi menyeberang laut. Belum lagi kuncen kesayangan kawulo malah jadi hedon rekso-rekso Gusti..." keluh mbah Bumi.

"weleh! weleh! wis dicoba buang hajat isi perutmu ke atas bumi?" "Dulu kan bisa membuat kapok mereka" saran suara dari interkom.

"...nyuwun pangapunten Gusti, memang dulu sewaktu kawulo mengutus Nogo Baru Klinting melubangi bumi dengan lidi di tengah negeri orang serakah tanpa welas asih, lalu dari lubang tadi kawulo buang hajat membanjiri mereka, memang mereka bertobat. Berubah jadi bangsa welas asih..." jawab mbah Bumi.

"Nah bener tho! ngono wae kok repot!" tukas suara dari interkom.

"...nyuwun pangapunten Gusti, sebelum kawulo sempat mengirim utusan melubangi bumi, mereka malah sudah lebih dulu mengirim Ulo Bakery Sinting, menggali lubangnya lebih dalam Gusti... nyaris mengenai prostat kawulo" jawab mbah Bumi lagi.

"weleh! weleh! weleh! njur terus piye?"

"...ngampuro Gusti, inggih medhal sedoyo hajatipun kawulo, lebih banyak dari dulu"

"weee... yo apik mestine pada kapok tho yang pada serakah?" tanya suara dari interkom itu lagi.

"...ngampuro Gusti, tidak kapok, yang terkena hajat kawulo malah yang tidak ikutan kebagian hasil keserakahan, yang serakah malah bisa menghindar tidak kena hajat"

"weleh! Kok iso?" tanya suara dari interkom itu lagi, sedikit tinggi nadanya.

"...ngampuro Gusti, mboten ngertos sanget, mereka punya ritual menghindar, namanya lelakon divestasi Gusti..."

"Edhan! opo maneh kuwi?"

"...nyuwun pangapunten Gusti, mboten ngertos kulo" jawab mbah Bumi. Jarinya sudah semakin bergetar kelelahan di tombol interkom.

"Ya wis, coba cara sedikit halus, tumbuhkan bisul bunga-bunga bangkai berbau busuk sebagai firasat bahwa kowe sedang ngambek" perintah suara interkom sedikit tenang.

"...nyuwun pangapunten Gusti, sampun dilakukan atas inisiatif kawulo, malah lebih banyak dari biasanya. Satu tempat ada yang kawulo tumbuhi sampai empat bunga bangkai. Mestinya sudah bau banget Gusti..."

"Lha terus piye?"

"...ngampuro Gusti, malah masuk tivi, dikerubungi, dipageri tali rafia lalu ditariki karcis masuk" jawab mbah Bumi.

"Pancen edhan nek ngono! Ya wis kalo kowe kepengen pensiun silakan, nanti biar disiapkan tempat di langit ke dua"

"...nyuwun pangapunten Gusti, apa nanti disiapkan juga tunjangan rumah mewah, kendaraan, kavling, vakantie dan seratus kali lipat tunjangan bulanan?" tanya mbah Bumi sedikit ragu.

"He?! apa lagi tho itu?" tanya suara di interkom heran.

"...ngampuro Gusti, disebatipun hak pensiun eksekutif, legistatif dan yudikatif seperti kebiasaan mereka Gusti..." jawab mbah Bumi menjelaskan.

"Weh... Weh... Weh... jebule kowe yo wis melu edhan tho!!!"

Lalu interkom dimatikan dari dalam.

Welcome Mr. Bush

"if you hate a person, you hate something in him that is part of yourself. What isn't part of ourselves doesn't disturb us" - Hermann Hesse, 1946 Nobel Prize Winner for Literature

Sadar tidak sadar, setengah abad terakhir di Indonesia sudah masuk agama baru. Tidak perlu diatur Peraturan Pemerintah, tidak perlu disebarkan dengan kekerasan atau penjajahan, tidak perlu disebarkan dengan bagi-bagi uang, serta yang terbaik, tidak perlu disebarkan dengan simbol-simbol dan dogma-dogma yang sulit dicerna. Mungkin sedikit perlu biaya. Nama agamanya "Amerika".

Kalau agama lain masing-masing cuma punya satu nabi pembawa pesan, agama ini punya banyak nabi. Bill Gates, Michael Jackson, Michael Jordan, Lee Iacoca, Alan Greenspan, John Naisbith, Bruce Willis, Hugh Hefner, Joey Silvera adalah beberapa di antaranya. Bahkan tidak perlu nyata, seperti Donal Bebek, Kermit dan tentunya sang Marlboro Man. Kitab sucinya hanya beberapa lembar mulai denominasi 1 hingga 100 dolar dengan ayat religiusnya yang terpercaya 'In God We Trust'. Entah berapa ratus juta penganut agama ini di negeri kita tercinta, walau KTP bertulis lain, siapa yang tahu kemana ikrar hati? Negeri ini paling subur ditumbuhi 'pepaya berdaun sirih'.

Paling khas, kalau agama lainnya menganggap kebencian, iri dan dengki (sirik, yang pertanda tak mampu) adalah penyakit hati, agama ini sebaliknya. Kebencian, iri dan dengki adalah energi. Kebencian, keirian dan kedengkian orang lain bagi kita adalah potensi. Pernah merasakan dibenci, di-iri-i dan didengki-i oleh orang lain? it was fun. Bahkan dengan sedikit saja senyuman, para pembenci, peng-iri dan pendengki sudah bakalan pontang-panting membuang energi pikiran dan emosi hanya untuk merusak diri mereka sendiri. Sangat menyenangkan melihat mereka melakukan hal-hal bodoh.

Dalam beberapa waktu, Imam mereka Mr. Bush, akan datang ke negeri kita. Ia akan sekali lagi membuktikan bagaimana memanfaatkan kebencian, ke-iri-an dan kedengkian menjadi energi bahkan profit ekonomi. Bayangkan senyum lembutnya sambil melambaikan tangan dengan penuh kepercayaan diri di televisi akan segera membakar hati sekian banyak pembenci. Sekian banyak orang akan buta rasionalitasnya oleh kebencian lalu lupa akan apa yang seharusnya dibenci.

Satu contoh, cukup dengan melempar satu saja komoditas 'syiar'nya, "Playboy", entah berapa banyak energi yang terkuras untuk mengumbar kebencian. Kebencian inilah yang dimanfaatkan dengan baik untuk membutakan rasio. Profitnya untuk mereka? Kita lupa Blok Cepu dan Sekularisme dengan tujuan liberalisasi atas nama demokrasi di Aceh yang kaya sumber energi. Belum lagi "Playboy" yang ternyata tetap laris manis dan tentunya (lagi-lagi) profit.

Saya sendiri pernah mengamalkan ajaran agama 'Amerika' ini, lalu mengambil keuntungan darinya. Kebencian. Pada satu bidang wirausaha, saya mencoba menerapkan nilai-nilai yang rasanya sesuai dengan agama-agama lain seperti keadilan, kerukunan, kesejahteraan bersama, kesetaraan dan lain-lain. Hasilnya? para karyawan dengan rukun dan kompaknya menggerogoti ladang kerjanya sendiri lalu saling setia dan setara untuk saling menutupi kesalahan. Ketika kebencian diterapkan dengan adu domba dan ke-tidak adil-an, hasilnya luar biasa, tidak ada lagi penggerogotan, bahkan antar karyawan saling mengadukan keburukan masing-masing sehingga sangat mudah dipantau untuk kemudian efisiensi profit meningkat pesat.

Inikah perlakuan yang memang ternyata pantas dan tepat buat bangsa kita?

Bila kita membenci atau minimal tidak ingin terkonsumsi oleh 'Amerika', sebaiknya tidak menguras energi dan pikiran untuk mengekspresikan kebencian itu. Ini yang mereka inginkan. Entah profit apa yang dikejar Imam Bush kali ini di tengah kebencian atas nama agama, atas nama sentimen kebangsaan, atas nama helipad, atas nama teratai Brazil yang beterbangan dari kolamnya dan pohon tua yang hampir rubuh di Kebun Raya, atau atas nama kemacetan akibat blokir jalan di kota Bogor. Kebencian ini sudah mulai banyak mengkonsumsi energi.

Seharusnya lagi, mari kita membenci dengan cara yang aneh dan tidak tertebak, mari kita elu-elukan kedatangan Imam Bush. Buka tangan lebar-lebar untuk memeluk sembari mencari titik terempuk untuk kita tikam. Paling mudah, acuhkan saja kedatangannya. Bush...? who...?

Ingat Imam Bush! Camkan pesan ini! Dengarkan baik-baik selama anda berkunjung ke Indonesia : Selamat datang mean welcome... Apa kabar mean how are youuu.....

Penyanyi yang aneh.

Indonesia Kumplit

Saya merenungi artikel ini semalaman. Dalam skala lain, kondisi lain, dan waktu lain pula, siapa saja bisa menjadi obyek-obyek yang tercantum. Ini Indonesia banget! Selengkap-lengkapnya menggambarkan (apa yang dilakoni manusia-manusia) Indonesia. Semua karakter dan peran tokohnya begitu kuat (dan nyata tentunya), saya ulangi, semua tokohnya! Bahkan artikelnya sendiri yang entah dibuat sebagai berita atau advertorial. Baru kali ini kata-kata lebih berarti dari ribuan foto atau cuplikan video di televisi. May God forgive us.

Dikutip dari Harian 'Pikiran Rakyat', harian lokal Bandung-Jawa Barat. Terbitan Kamis, 19 Oktober 2006. Halaman 10, kolom 6. Online di Website Pikiran Rakyat.

==
Ditangkap Gara-gara CCTV

GARA-GARA terekam kamera pengintai, Sule (30) terpaksa berurusan dengan pihak kepolisian. Warga Cijenuk Kab. Bandung itu, disangka mencuri sepeda balap milik David Antonius Daliman, warga Tatar Wangsakerta Kota Baru Parahyangan Kec. Padalarang Kab. Bandung. Ia ditangkap di kediamannya, Selasa (17/10) pukul 13.00 WIB.

Ceritanya, Antonius melaporkan ihwal pencurian tersebut kepada petugas keamanan setempat, Senin (16/10) pukul 15.00 WIB. Laporan itu diteruskan ke Mapolsek Padalarang, kemudian Mapolresta Cimahi. ”Kebetulan, sejak sebulan lalu, kita sudah menggunakan CCTV (closed-circuit television - red.). Karenanya, kita langsung menelusuri rekaman pada perkiraan saat kejadian,” ungkap Restu Mahesa, Security Manager Kota Baru Parahyangan, kepada wartawan, Rabu (18/10).

Tak lama, wajah Sule muncul di layar kamera pemantau itu. Tercatat, ia memasuki Tatar Wangsakerta pukul 6.35 WIB, cuma berbekal tas punggung. Tetapi, saat keluar pukul 7.13 WIB, ia menuntun sepeda balap. ”Rekaman itulah yang kita serahkan kepada polisi. Setelah penyelidikan, ternyata, mengarah kepada dia, buruh bangunan yang diberhentikan, beberapa waktu lalu,” tuturnya.

Di tempat terpisah, tersangka Sule mengaku khilaf. Perbuatan itu terpaksa dilakukannya untuk menghidupi anak dan istrinya di kampung. Sebelum pulang, Senin (16/10), sepeda itu ia jual Rp 100.000,00 kepada seorang pedagang di Kota Cimahi. ”Betul, Pak. Saya benar-benar terpaksa melakukan perbuatan tersebut,” katanya.

Kepada polisi, Sule menuturkan, hari itu sebenarnya, ia berniat mencari kerja. Lalu, ia mendatangi Asep, warga Kp. Sudimampir Desa Kertajaya Kec. Padalarang, bekas mandornya di perumahan tersebut. ”Saya katakan, apakah sudah ada pekerjaan buat saya? Pak Asep jawab, belum. Lalu, saya minta izin untuk mengambil peralatan saya di rumah yang sedang direnovasi. Niat mencuri muncul ketika saya melihat sepeda di rumah seberang,” ujar Sule.

Restu mengatakan, penggunaan kamera pemantau merupakan bagian dari road map security. Apalagi, faktor keamanan merupakan hal penting buat para penghuni. ”Sebagai bukti, kasus pencurian ini bisa segera terungkap,” demikian Restu Mahesa. (Hazmirullah/”PR”)***

Menjadi Pekerja Itu Nikmat

Konsep bekerja dan punya atasan adalah sesuatu yang sangat jauh dari pikiran. Sampai suatu hari seorang teman menghubungi dan menawarkan sebuah pekerjaan pada perusahaannya. Posisi cukup mentereng yang membanggakan untuk tercantum pada kartu nama, perusahaan yang reputable di bidangnya dan bidang yang tidak asing. Bukan melulu hal-hal di atas yang menyebabkan tawaran ini menjadi sangat menarik, tetapi justru karena siapa yang menawarkan. Dari sekian banyak kenalan, teman, kolega dan malah pegawainya sendiri, teman saya tersebut justru menawarkan kepada saya. Sebuah kehormatan besar, mengingat kawan saya ini seseorang yang kompeten, memiliki banyak kelebihan sehingga mampu mencapai posisinya saat ini. Rasanya seperti di-rating A + oleh sekelas Far Eastern Economic Review. Maybe I am not the first choice at all, but at least I am on the top of the choices.

Tawaran yang merupakan pujian sekaligus tantangan ini saya terima. Dan inilah tiga pengalaman utama sampai akhirnya saya mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut.

Pertama, mungkin sudah masuk angka ribuan kotak untuk jumlah kartu nama yang pernah saya produksi bagi klien-klien usaha printing dan ternyata saya baru tahu persis apa fungsinya dan bagaimana ia digunakan. Mungkin bagi (sedikit) yang belum tahu, ternyata kartu nama bukan sekedar untuk 'data' dengan siapa kita pernah bertemu. Ternyata ia berfungsi sebagai 'pengingat' nama kita ketika terjadi sebuah pertemuan interaktif dengan banyak peserta pertemuan yang setara. Setara dalam artian komunikasi pertemuan terjadi secara horisontal dan multi titik antar peserta. Pada pertemuan yang pernah dilakukan sebelumnya semasa masih bekerja sendiri, komunikasi hanya antar dua titik saja. Saya dan klien, walaupun klien tersebut beberapa orang, tetap hanya ada dua pihak. Ketika bekerja, saya mengalami melakukan pertemuan antara lima pihak sekaligus dengan saling melakukan komunikasi antar pihak untuk satu kepentingan. Voila... saat itulah kartu nama menjadi piranti wajib. Bayangkan, ribuan kotak kartu nama pernah saya produksi sebelumnya dan baru saat itu saya tahu fungsinya.

Kedua, Obedience. Kepatuhan adalah sebuah hal yang sangat asing buat saya. Terhadap orang tua pun apabila dilakukan 'rating of obedience' dari 1-10, nilai saya mungkin hanya 5 atau 6. Tatanan aturan formal terakhir yang saya alami di bidang pendidikan juga jauh dari 'kepatuhan'. Mulai dari SMA terbaik di kota Bandung yang dengan mudah bisa datang dan pulang sekehendak hati, hingga Perguruan Tinggi Teknik terbaik di Indonesia yang sistemnya demikian mudah dilipat dan dimanipulasi. Konsepsi tentang bekerja bagi saya adalah 'kepatuhan absolut yang cerdas', sebagaimana halnya tuntutan saya pada orang yang bekerja pada bidang-bidang usaha yang saya miliki. Menjadi misteri sebelumnya tentang apa yang pekerja-pekerja saya tersebut rasakan dengan konsep bekerja tersebut. Ternyata... it was good and easy. Terhadap berbagai hal, cukup mengamati input, memberi masukan serta action terbaik, and let the boss take the stress, decisions and responsibilities. Bila hasilnya baik, biarkan bos menikmatinya seolah semua atas aksinya toh bila hasilnya buruk ia pula yang menanggung sepenuhnya. Ternyata menjadi pekerja itu nikmat, mudah dan unstressful. Setelah ini tentunya saya akan beri lebih banyak lagi beban bagi orang yang bekerja untuk saya.

Ketiga dan terpenting, I am not as best as I thought before. Sebelumnya saya menganggap apapun bisa saya kerjakan,apapun bisa saya pelajari dalam waktu singkat, apapun yang saya pernah kerjakan telah dikerjakan dengan metode yang terbaik (termasuk cara melipat tatanan aturan formal). Ternyata tidak. Target yang dibebankan oleh perusahaan serta terutama oleh saya sendiri hasilnya gagal total. Apa yang saya pikir terbaik untuk dilakukan tidak menghasilkan hal yang terbaik. So I quit.

Back to my own bussines, banyak perbaikan yang saya lakukan, manajemen waktu, tertib administrasi, bagaimana memperlakukan pekerja (sebagaimana saya ingin diperlakukan sebagai pekerja), bagaimana memperlakukan klien lebih baik lagi dan tentunya bagaimana lebih menghargai kartu nama.

Ada yang lain ingin menawarkan saya bekerja? I have 3 months experience as failed (proposed) sales and marketing coordinator at reputable national scale company.

Itong

Itong adalah nama anjing peliharaan keluarga kami. Jenisnya campuran, ia peranakan herder dan chow-chow. Kombinasi ini menghasilkan bentuk badan dan kaki lebih tinggi langsing daripada murni keturunan chow-chow tapi juga lebih tambun daripada herder asli. Pada wajah, telinga tegak dan moncong panjang ber'andeng-andeng' khas herder sekaligus berwajah lebar dan berlidah ungu seperti chow-chow. Bulunya juga memiliki karakter kedua jenis anjing tersebut, bulunya tebal tetapi lebih kaku daripada bulu anjing jenis chow-chow dan warnanya coklat muda menggelap ke bagian ujung-ujung bulu seperti pada herder. Ekornya panjang seperti herder namun dengan bulu-bulu panjang lembut sebagaimana chow-chow. Sifatnya lebih banyak seperti anjing jenis chow-chow; kalem, pendiam, dan jarang menggonggong.

Januari lalu, setelah hampir 12 tahun hidup bersama kami layaknya anggota keluarga, Itong mati karena tua. Entah apa yang 'terjadi' pada anjing-anjing setelah mereka mati hingga rasanya kurang layak memanjatkan doa bagi mereka. Paling pas hanya berharap. Berharap bahwa selama ia hidup, ia merasa bahagia dan hangat di antara kami sebagaimana kami merasakan kehangatan dari keberadaannya selama ini.

Tertekan dan Tidak Mau Makan
Itong tiba di rumah kami kira-kira di akhir tahun 1994. Umurnya waktu itu menurut penjualnya, lebih kurang 3 atau 4 minggu. Penjual tersebut semula membelinya dari penjual lain dengan niatan untuk dipelihara, namun karena tidak biasa memelihara anjing dan bingung karena Itong tidak mau makan dan minum susu, ia menjualnya kembali. Seingat saya, ayahlah yang melihat iklan penjualan anjing itu di koran dan ibu yang berangkat membelinya. Kalau tidak salah di kawasan jalan nama-nama wayang di daerah Jalan Pajajaran di Bandung. Harganya waktu itu Rp. 125.000,- atau kira-kira setengah dari uang kuliah satu semester saya kala itu.

Setibanya di rumah, kami sekeluarga sepakat menamainya Itong, mungkin supaya mirip dengan nama anjing kami yang mati beberapa bulan sebelumnya, si 'Onthong', kadang dipanggil 'Otong'. Ketika datang Itong tampak ketakutan, dengan ekor terlipat di antara kedua kaki belakang kecilnya, ia bersembunyi di bawah meja di ruang keluarga rumah kami. Bila didekati, ia akan menggeram namun bila kemudian disentuh, geramannya berubah menjadi suara lenguhan yang terkesan mengeluh, bukan lengkingan ketakutan. Saat itupun susu yang diberikan tidak disentuhnya, apalagi makanan. Menurut ayah, Itong terlalu kecil untuk dipisahkan dengan induknya, sehingga ia tertekan.

Agak lama sebelum ia akhirnya mau juga menyentuh susunya, hanya saja tidak boleh ada orang yang ia tahu memperhatikannya. Piring susunya harus ditinggalkan di bawah meja, baru kemudian setelah yakin tidak ada yang memperhatikannya, ia mulai mengendus dan sedikit mendorong-dorong mangkuk itu dengan moncongnya baru kemudian mulai meminumnya. Perilaku ritual makan yang kemudian akan ia bawa sampai mati bertahun berikutnya.

Sampai beberapa hari kemudian, ia masih banyak berdiam di bawah meja di ruang keluarga, tetapi ia saat itu sudah lebih bersahabat, walaupun masih menggeram ketika didekati, setelah disentuh dan dibelai, ia akan segera keluar untuk mengikuti si pembelainya tadi. Apabila kemudian kita duduk, ia akan segera bermain-main dengan kaki kita, terkadang menjilati jari-jari kaki atau kemudian tidur menyandarkan kepala di atas jari-jari kaki. Karena ukurannya saat itu yang kecil saja, tidak lebih dari tengadahan kedua telapak tangan saya disatukan, sering ia saya tidurkan di atas perut saya sambil saya usap-usap kepalanya. Tak lama ia akan tidur-tidur 'ayam' sambil sesekali mengintip kemudian memejamkan matanya lagi. Beberapa waktu kemudian, karena ayahlah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, ia lebih banyak mengikuti ayah sampai akhirnya ia tidur di kamar ayah dan ibu. Di lantai, tepat di bawah-samping posisi kaki dari ranjang tidur ayah.

BAB Harus Diantar
Keluarga kami memelihara anjing semenjak awal 1970an, seingat saya sudah lebih kurang 11 ekor anjing yang pernah menjadi bagian keluarga kami termasuk Itong. Ritual awal ketika anjing-anjing itu datang adalah membiasakan mereka untuk buang hajat di luar rumah. Awalnya mereka akan buang air besar dan kecil di dalam rumah, di keset, karpet dan malah naik ke kursi. Ibu yang biasanya menjadi pelatih, dengan cara-cara emosional, anjing yang sudah buang hajat di dalam rumah akan dimarahi habis-habisan sampai ketakutan, biasanya disabeti dengan sapu lidi lalu kemudian dibawa ke luar rumah untuk digesekkan bagian pantatnya ke rerumputan. Selalu efektif, demikian pula untuk Itong.

Setelah kemudian agak lebih besar sedikit, Itong mulai dibawa berjalan-jalan ke luar pagar rumah, konon untuk tidak mengurangi kemampuan motorik alaminya sebagai anjing. Anjing peliharaan yang kurang dibawa berjalan-jalan, kabarnya akan malas bergerak, otot-ototnya melemah, kemudian mudah terkena penyakit, lalu tentu saja tidak berumur panjang. Siapa yang menemaninya berkeliling di dalam kompleks perumahan tempat tinggal keluarga kami selalu berganti, namun lebih sering bersama pembantu rumah tangga. Jalan-jalan ini biasanya dilakukan sore hari, sekitar pukul 4 atau 5 sore. Kebiasaan ini kemudian disertai kebiasaannya buang hajat sambil jalan-jalan, alhasil, 'teman' jalannya harus menemani bahkan cenderung menontonnya buang hajat. Hampir semua sudut kompleks perumahan pernah ia 'hajati'. Apabila hari hujan atau kebetulan tidak ada seorangpun yang sempat mengantarnya jalan-jalan, Itong akan diam saja di rumah, walaupun kelak setelah ia lebih dewasa, dan pintu ke luar rumah terbuka lebar, ia akan tetap berkeliaran di dalam rumah atau halaman dan tidak buang hajat hingga berhari-hari sampai ada seseorang yang mengantarnya jalan-jalan.

Saya sendiri rutin mengajaknya berjalan-jalan, tidak sering memang, sekitar 1 atau 2 kali seminggu. Awalnya, Itong harus mengenakan rantainya ketika berjalan-jalan, mungkin khawatir ia akan mendadak lari menyeberang jalan ketika ada kendaraan atau mengejar kucing atau berkelahi dengan anjing lain pada rute yang akan dilewati. Entah mengapa dari seluruh orang di rumah, ia tampak patuh karena takut hanya kepada saya. Hanya saya yang bisa memerintahkannya untuk 'salam', mengangkat kaki depan kanannya ketika kita julurkan tangan ke arahnya. Hanya dengan saya pula ia bisa berjalan-jalan tanpa rantai, karena sedikit saja ia menjauh dan saya panggil dengan nada agak keras, ia akan segera kembali menghampiri.

Selain jalan-jalan dengan berjalan kaki, saya sering pula mengajaknya untuk jalan-jalan dengan mobil. Bila dibukakan pintu, ia akan antusias meloncat naik untuk kemudian duduk di kursi depan. Ia senang mendekatkan moncongnya ke arah jendela yang sedikit terbuka. Mungkin ia menikmati hembusan angin yang lewat dari celah jendela itu ketika mobil melaju. Biasanya matanya akan setengah terpejam seolah ia sangat menikmatinya.

Kelak ketika ia pindah mengikuti kepindahan orangtua saya ke rumah baru, saya sangat jarang bisa meluangkan waktu berjalan-jalan dengannya ketika mampir ke rumah orangtua. Tapi kepatuhannya untuk bisa jalan-jalan tanpa rantai tetap sama.

Pindah
Akhir 1999, kedua orang tua saya memutuskan pindah rumah, menempati sebuah rumah lain di kawasan Bandung Utara yang selama ini hanya disewakan ke orang lain sementara saya tetap menempati rumah lama. Pindahnya mereka tentunya diikuti oleh Itong. Praktis semenjak itu kami jarang sekali bertemu, mungkin hanya bisa bertemu dengannya sekitar satu dua kali saja tiap minggunya, itupun hanya sebentar. Terlebih setelah menikah, dan kemudian memiliki anak, saya makin jarang melihatnya, terkadang hanya satu kali dalam sebulan. Dikarenakan ayah atau ibu masih menyempatkan mampir tiap hari ke rumah yang masih saya tempati sampai saat ini.

Setelah pindah mengikuti orang tua saya, Itong semakin dekat hanya dengan ayah. Bila sedang di rumah, kemanapun ayah pergi ke sudut-sudut rumah, Itong akan selalu mengikutinya.

Sewaktu kakak perempuan saya menikah, rangkaian prosesi pernikahan dilakukan di rumah orang tua saya. Pada seluruh rangkaian prosesi itu pula Itong mengikuti ayah saya yang tentunya sangat terlibat. Hanya pada proses sakral akad nikah, Itong dipaksa masuk ke dalam kamar lalu dikurung di dalamnya. Setelah itu, ia kembali tampak berada di antara kaki ayah. Sesuai sifatnya yang pendiam dan tenang, saat itu ia hanya duduk diam di sisi kaki ayah. Kecuali saat ayah bergerak berpindah tempat, Itong akan segera sigap ikut bergerak mengikuti kemana ayah pergi.

Ketika saya belum menikah, terkadang saya menginap di rumah orang tua. Ketika menginap, pasti Itong saya ajak serta untuk tidur menemani di kamar, biasanya ia ikut naik ke ranjang lalu kemudian bila saya sudah tertidur ia akan turun kembali kemudian tidur di sisi kaki tempat tidur.

Proses penuaannya mulai terlihat, beberapa kali menginap untuk terakhir kalinya sebelum saya menikah, Itong sudah mulai tidak mampu loncat sendiri naik ke tempat tidur, terkadang kaki belakangnya tertinggal dan tersangkut di sisi ranjang. Setelah saya menikah kemudian, saya tidak pernah lagi mengajak Itong naik ke ranjang bila menginap di rumah orang tua, tentunya karena sudah ada istri tercinta di ranjang yang pasti enggan ditemani pula oleh seekor anjing. Belum lagi istri saya mengidap asma yang mungkin bisa kambuh karena alergi terhadap bulu anjing. Saya tidak pernah sempat melihatnya gagal meloncat ke atas ranjang.

Waktu-Waktu Terakhir
Setiap saya sekeluarga berkunjung ke rumah orang tua, saya tidak pernah lama berinteraksi dengan Itong, biasanya hanya sekedar mengusap-usap kepalanya sebentar lalu mengajaknya bersalaman. Biasanya ia pun hanya mengendus sebentar, menggoyangkan ekornya lalu menyandarkan kembali kepalanya di atas kakinya di lantai, tepat seperti foto yang saya lampirkan di atas. Terkadang saya dan anak sulung saya sedikit bermain dengannya, itupun tidak akrab, karena anak saya tidak berani terlalu dekat. Tak jarang Itong saya usir menjauh agar anak saya dapat bermain di rumah nenek-kakeknya tanpa rasa takut. Memang semenjak kehadiran cucu-cucu dari orang tua saya, Itong banyak tersisih. Saya sempat mengamati bahwa ia cenderung lebih tidak segembira ketika masih tinggal di rumah lama. Dulu saya bisa memprovokasinya untuk berdiri dengan dua kaki belakangnya saja untuk kemudian menyandarkan kedua kaki depannya di pinggang saya atau dengan menghentak-hentakkan kaki di depannya sambil memanggil namanya, Itong segera merespon dengan berlari-lari kencang kian kemari seolah kita mengajaknya bermain kucing-kucingan dan seringainya kala itu entah kenapa seperti tertawa. Tahun-tahun belakangan ia sudah tidak mau lagi diajak bergembira, ia lebih banyak diam berkesan murung, pemalas kemudian ditambah pincang kaki belakang yang makin lama semakin parah.

Interaksi terdekat terakhir saya dengannya adalah ketika ayah meminta saya mengantar Itong ke dokter hewan untuk memeriksakan kepincangannya yang semakin parah. Ia sudah tidak mampu lagi meloncat naik ke dalam mobil sehingga saya harus menggendongnya. Demikian pula ketika turun, ia tidak berani meloncat turun untuk keluar dari mobil sehingga kembali saya harus menggendongnya turun lalu membawanya masuk ke ruangan dokter. Waktu itu menurut dokter ia terkena rematik yang disebabkan selalu tidur di atas lantai keramik yang dingin tanpa alas.

Beberapa waktu kemudian ia mulai buta, karena kebutaannya, mobilitasnya menurun. Ia hanya bergerak di sekitar ruang tengah di rumah orang tua saya, terkadang keluar di halaman untuk buang hajat. Saya beberapa kali melihatnya berjalan meniti tepian dinding untuk mencari arah. Terkadang kursi atau meja ia tabrak. Ditambah dengan kepincangannya, saya dan kakak saat itu pernah mengusulkan bahwa sudah tepat waktunya untuk mengakhiri hidupnya tanpa lebih banyak penderitaan dengan cara suntik mati, tapi orang tua saya tidak tega, "biar saja ia mati alami" kata mereka.

Karena kesibukan, saya lama tidak sempat mampir menengoknya, hanya kabar dari orang tua yang menceritakan makin memburuknya kondisi Itong. Mulai dari tidak mau makan, kemudian tidak mau minum susu, sampai akhirnya tidak mampu berdiri. Suatu malam, ibu saya menelepon dan mengabarkan bahwa Itong sudah tiduran saja dengan napas tersengal-sengal. Entah kenapa malam itu ia memaksakan diri menggonggong dengan suara lemah. Sepanjang malam. Keesokan harinya, orang tua saya harus pergi ke luar kota menghadiri acara keluarga. Hari itu hari Minggu, kira-kira pukul 2 atau 3 sore, Itong akhirnya mati. Tanpa ada anggota keluarga kami yang melihatnya. Tukang kebun kami hanya menelepon ayah untuk mengabari dan kemudian langsung menguburnya di pojok halaman depan rumah. Saya sendiri baru mengetahui di keesokan harinya. Reaksi saya biasa saja, tidak ada kesedihan, tetapi terasa benar ada rasa kehilangan yang tercuil dibawa mati oleh Itong.

Malam ini saya sempatkan menyelesaikan cerita yang amat sangat tidak lengkap menggambarkan bagaimana Itong mewarnai kehidupan keluarga kami. Saya bingung bagaimana menyikapi kematian seekor anjing. Selain berharap semasa hidup ia merasa nyaman dan hangat berada di antara kami, saya mengutip pendapat Billy Joel tentang kematian untuk menjawab kemana Itong pergi setelah mati.

Ia pergi ke sudut hati kami yang menyayanginya.

Lupa

Kiamat!! Setelah dua-tiga hari lalu nonton film lama (lagi-lagi) di TV yang mengingatkan satu momen penting dalam hidup yaitu; 'Cinta SMA', saya lupa akan satu hal terpenting dalam momen itu, berusaha mengingat-ingat tapi tetap saja 'file' memori yang satu ini tidak 'nimbul'.

Cinta SMA saya lumayan unik, tidak sembarangan macam cinta 'monyet'. Kalau boleh digolongkan, mungkin termasuk ke dalam istilah "struck by love" atau "punched drunk love". Suatu hari sewaktu saya masih duduk di kelas dua SMA, mendadak di sebuah jam pelajaran, sang guru memberikan tugas atau mungkin ulangan, saya tidak ingat benar. Waktu itu mungkin saya tidak siap atau tidak paham benar materi pelajaran dan karenanya saya segera 'celingukan' mencari selamat. Kemungkinan lagi, waktu itu kawan semeja saya (rasanya pasti si Ashar, he's on my 'friendster' page) sedang tidak siap juga dan karenanya kami segera berpencar mencari selamat. Then there was this girl, ia tengah duduk sendiri di bangkunya. Kawan semejanya entah kenapa absen hari itu. Segera saya pindah ke mejanya dengan pemikiran bahwa perempuan cenderung lebih siap dengan materi pelajaran. Sewaktu pindah, karena tergesa, tidak sengaja saya tendang kaki mejanya yang menyebabkan gadis itu, yang tengah menulis, terhenti sejenak kemudian mengangkat bolpennya dari atas kertas. Tanpa menoleh, ia melanjutkan menulis. Saya lupa apakah waktu itu sempat meminta maaf untuk tendangan ke kaki meja yang pertama, yang pasti dia ijinkan saya untuk mencontek apapun yang ditulisnya waktu itu. Tak lama kemudian, mungkin ketika menyesuaikan posisi kaki ke balok penopang kaki di bawah meja, kembali tanpa sengaja saya menendang kaki meja. Kali ini selain mengangkat bolpennya sejenak dari atas kertas, saya sempat mendengar satu decakan tanda kesal. Kali kedua itu, saya ingat bahwa saya meminta maaf, "sori!". Tidak ada respon dan ia lanjutkan menulisnya.

Tak lama, mungkin hanya beberapa belas detik kemudian, ketika saya tengah serius menulis, mendadak meja bergoyang keras. Saya berhenti menulis lalu menoleh ke samping, ke arah gadis itu. Mengapa saya menoleh waktu itu mungkin karena akan mengatakan padanya bahwa bukan saya kali ini yang menyebabkan meja bergoyang. Kemungkinan lain, waktu itu saya khawatir dia akan lebih kesal lagi karena menyangka saya kembali menendang kaki meja. Ketika saya menoleh ke arahnya, ia tengah melihat ke arah wajah saya sambil sedikit tersenyum. Agak heran sejenak lalu tersadar, saya kemudian bertanya, "kamu teh ngebales?!". Ia melebarkan senyumnya tanpa menjawab, meninggalkan saya dari pandangannya, lalu menulis lagi. That was it, the moment of 'Ctrl-Alt & Del'.

Saya tidak ingat apa yang terjadi kemudian di hari itu. Pastinya, di hari-hari berikutnya, gadis itu menjadi 'screen saver' tiap kali pikiran melayang-layang. 'Theme song'nya; "You come to my senses" dari 'Chicago' album 'twenty one'. "...You come to my senses.. everytime i close my eyes.." Jika sebelumnya bagi saya hanya termasuk kriteria 'sedikit di atas rata-rata', setelah momen tadi gadis itu adalah 'the most beautiful creature in the universe'. Semua yang diciptakan menjadi bagian tubuhnya, menjadi sesuatu yang istimewa. Saya betah berlama-lama memperhatikan rambut sebahu-lebih-nya ketika kebetulan (sebetulnya lebih sering diusahakan) duduk di belakangnya. Melihat matanya apalagi. Pokoknya seingat saya, semua mendadak sempurna. Terkonyol adalah bagaimana kemudian saya selalu gugup bila kebetulan (lagi-lagi sebetulnya lebih sering diusahakan) berbicara dengannya.

Cerita berakhir tidak 'happy ending' buat saya. Walaupun diperkenankan beberapa kali datang melakukan 'kunjungan musibah' di malam minggu, saya tidak pernah berakhir memacarinya. Katakan saja bahwa kami tidak sesuai untuk satu sama lain. Lebih tepatnya saya untuk dia, alias ditolak!

Ketika lama kemudian saya telah menggolongkan cerita di atas sebagai kisah indah dalam memori, ternyata hari ini, sejak beberapa hari lalu nonton film lama yang mengingatkan tentang cerita tadi, saya tidak dapat mengingat satu detail penting. Saya lupa wajah gadis itu! Kiamat!!

Tentang lupa, sebuah majalah saku lama pernah mengutip hasil penelitian sekelompok ilmuwan di luar negeri, mereka melakukan sebuah riset tentang bagaimana manusia mengalami 'lupa'.

Risetnya kira-kira begini, siapkan secarik kertas dan alat tulis. Baca sambil hafalkan dua puluh kata di bawah ini selama dua sampai tiga menit :

| Manis | Kanker | Tertawa | Sehat | Kecelakaan | Mati | Perayaan | Perampok | Embun | Danau | Gelap | Gembira | Terbang | Hantu | Menang | Hutang | Jatuh | Balita | Busuk | Panas |

Setelah itu alihkan pandangan, ingatkan lalu tuliskan kembali sebanyak mungkin dari semua kata tadi pada kertas yang telah disiapkan.

Menurut majalah tadi, para peserta riset kebanyakan hanya dapat mengingat rata-rata sepuluh sampai dua belas kata dan ternyata sebagian besar yang mampu diingat dan ditulis kembali adalah kata-kata dengan makna 'menyenangkan' seperti "Tertawa" atau "Gembira" atau "Perayaan". Kata-kata dengan makna 'tidak menyenangkan' seperti "Mati" atau "Kanker" atau "Hantu" cenderung tidak tertulis kembali. Kesimpulannya, secara bawah sadar, manusia lebih ingin mengingat hal-hal menyenangkan dan tentunya melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Ini menjelaskan banyak hal. Misalnya mengapa pemerintah kita kali ini lebih senang bagi-bagi uang tunai dalam bentuk BLT (Bantuan Tunai Langsung) daripada memodali lapangan kerja. Setiap (lagi-lagi) TV menampilkan acara 'bagi-bagi duit' ala pemerintah tadi, yang tampak berbaris tidak pernah tidak, selalu berupa parade orang-orang yang kurang nikmat dipandang berlama-lama. Yang memutuskan 'bagi-bagi duit' mungkin menganggap orang-orang miskin tidak lebih dari pengamen parau atau pengemis jelek di perempatan jalan raya yang diberi satu atau dua keping uang logam bukan dengan maksud ingin menolong, namun sekedar supaya mereka segera enyah dari jendela kaca mobil yang nyaman lagi sejuk. At least dengan Rp. 300.000,- di tangan, parade unjuk rasa orang yang kurang sedap dipandang untuk muncul di luar pagar halaman kantor pemerintahan atau parlemen menjadi lebih kecil kemungkinannya. Sukur-sukur di pemilihan langsung empat tahun ke depan, mereka bisa sukarela memilih sang pembagi uang (negara).

Atau mengapa akhir-akhir ini begitu banyak pemukiman kumuh yang jelas-jelas tidak sedap pula dipandang, ingin di'lupa'kan dengan cara digusur habis. Tentu saja dapat dimengerti, bagaimana bisa melupakan sesuatu yang setiap hari masih terlihat. Dihilangkan dulu dari (situasi, kondisi dan toleransi) pandangan serta jangkauan, baru kemudian dilupakan. Kelihatannya bagi pengambil keputusan, jelas lebih nikmat untuk duduk di mobil yang nyaman lagi nikmat dengan pemandangan mal-mal megah atau apartemen cantik menjulang dibandingkan gubuk-gubuk kumuh di sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor mereka.

Atau lagi, jangan heran mengapa begitu banyak orang yang (lagi-lagi) kurang sedap dipandang berbondong datang ke gedung-gedung parlemen untuk menagih janji-janji wakilnya yang dulu diucapkan di hadapan mereka semasa kampanye. Jelas saja tidak dipenuhi janji-janji itu, 'wong' yang duduk di parlemen tadi sudah lupa akan janjinya. Kenapa lupa? ingat lagi masa-masa kampanye. (lagi-lagi) Di TV, yang tampak pasti sebuah panggung berisi oleh orang-orang 'indah' bersenyum sangat manis sedang mengobral janji di hadapan orang-orang yang kurang sedap dipandang di bawahnya, terlebih lagi dalam keadaan berdesakan dengan bau keringat dari panasnya kaus kampanye berbahan 'PE' atau 'Hyget' dengan harga hanya seperduapuluh dari anggaran satu kali makan siang wakil mereka di parlemen.

Jelas sekali pihak mana yang akan 'ingat' dan pihak mana yang kelak 'lupa' di kemudian hari. Mereka yang tidak sedap dipandang akan selalu mengingat indahnya janji-janji serta betapa manisnya senyum mereka yang di atas panggung. Bila beruntung, tak jarang mendapat pemandangan celana dalam di balik rok mini penyanyi dangdut yang bergoyang meramaikan suasana panggung. Sementara bagi mereka di atas panggung, pemandangan tidak sedap dari kerumunan penonton kampanye menjadi sesuatu yang ingin segera dilupakan. Tidak heran bila kemudian setelah terpilih dan duduk di dalam gedung parlemen yang nyaman lagi sejuk, lalu sekelompok orang yang tidak sedap dipandang datang menagih janji, mereka cuma saling menatap dengan sesama orang 'terpilih' dari balik jendela ruangan yang nyaman lagi sejuk itu lalu mengangkat bahu dan bertanya-tanya, "Mereka itu siapa?", "Saya janji apa sama mereka?", "kok saya LUPA?"

Contoh paling jelas lagi, sulit sekali menagih hutang pada kenalan. Malah karena terlalu lupanya, mereka lupa menjawab telepon atau me'reply' SMS. Lebih parah lagi lupanya, sampai-sampai lupa pernah kenal dengan sang pemberi hutang. Hutang, terutama pada bagian ditagihnya, mungkin menjadi hal yang paling 'tidak menyenangkan' dibandingkan makna 'sakit', 'mati', dan 'hantu' sekalipun atau bahkan 'neraka' sekalian.

Andaikata hari ini saya adalah seorang pencipta lagu yang masih bujangan, pasti sudah tercipta lagu yang lebih syahdu dari "Take a look at me now / Against all odds" oleh Phil Collins. "...There's nothing left in me to remind, just a memory of your face...". Pasti lebih sendu menceritakan tokoh yang sampai-sampai tidak punya memori tentang wajah gadis yang diidamkan.

Realitanya, saya berpikir sangat positif. Mengapa saya tidak dapat mengingat wajah gadis idaman saya semasa SMA itu bukan karena cerita tentang dia adalah hal 'tidak menyenangkan' yang secara bawah sadar patut dilupakan. Tetap menjadi cerita 'menyenangkan', hanya saja terkubur oleh banyak cerita lain yang jauh lebih 'menyenangkan' yang saya alami kemudian. Terlebih tahun-tahun belakangan ini dengan kedua anak-anak yang begitu indah untuk dirasakan dengan semua indera serta istri yang sangat mencintai mereka.

Sial

Hari-hari belakangan makin mudah saja mencari orang yang merasa menjadi orang tersial di dunia. "Sial" dalam artian dapat musibah konyol yang seharusnya tidak terjadi atau di luar perhitungan resiko. Bagi sementara orang, sudah cukup sial bila sedang mengemudi mobil lalu terhenti di perempatan berlampu merah lengkap dengan aksesori 'figur tidak pasti'. Bila receh seratus rupiah tidak tersedia, rasanya atap kabin mobil dan dunia akan runtuh menimpa kepala. Bila 'plus-plos', sosok ini cepat berlalu cukup dengan sedikit lambaian tanda menolak. Sial sedikit bila lambaian tolakan dibalas 'monyongan' bibir menor atau sedikit umpatan sambil berlalu. Sial menengah apabila lambaian tolakan tidak ditanggapi dan figur 'tidak pasti' ini terus saja bergoyang sambil berdendang sementara pirsawan pura-pura acuh padahal kisruh berpikir bagaimana memperoleh recehan.

Sebesar-besarnya sial adalah ketika recehnya ada dan sudah diberikan (jendela mobil terbuka), sang 'tidak jelas' bukannya segera enyah tapi malah membuka percakapan:
"Aih bodinya gedong, pasti pestolnya juga gedong! dienakin yuk?"
..."Ogah! doyannya yang asli!"
"Eh biar palsu enaknya sama getho lowh!"
...(speechless)
(tetap di samping luar jendela dengan wajah 'menantang')
...(Anjing ni lampu merah gak ijo-ijo!!)

Kaum tersial hari-hari ini adalah para penjaja bakso atau disebut tukang baso saja. 'Pars pro toto' pada kisah mas Otong, tukang baso di bilangan daerah Sangkuriang di Bandung;

Jajan 1:
"Mas, baso, yamin, pedes!"
..."Caos (maksudnya saus tomat merah gak jelas) pake?"
"Dikit aja kaya biasa"
..."Siapa tau nonton TV semalem"
"Kenapa gitu mas?"
..."Ada berita cara mbuat caos ini pake tomat busuk"
"Halah!, TV itu tukang bohong! terasi jelas-jelas barang busuk juga dimakan"
...

Jajan 2:
"Mas, baso, yamin, pedes! gak pake saos!"
..."Mi atau bihun mas?"
"Mana enak yamin bihun?! kaya biasa aja pake mie!"
..."Siapa tau nonton TV semalem"
"Kenapa lagi gitu mas?"
..."Ada berita cara mbuat mie basah ini pake 'promalin' yang buat mayat"
"Halah!, TV itu tukang bohong! rokok jelas-jelas lebih beracun juga diisep"
...

Jajan 3:
"Mas, baso, kuah, pedes! gak pake mi basah! gak pake saos!
..."Ada mi kering mau?, tapi direbus dulu"
"Ah lama! Laper!"
..."Ba'soku ini daging asli lho!"
"Lha yang kemaren-kemaren emang apa? karet sandal?"
..."Siapa tau nonton TV semalem"
"Kenapa lagi gitu mas?"
..."Ada berita cara mbuat ba'so pake borak sama pake daging tikus"
"Halah, T...(nggak diterusin)"
...

Jajan 4:
"Mas, ..., eh ke bawah dulu ah, buru-buru!"
..."yo!"

Jajan 5:
"..."
...(nggak jualan)

Malamnya di (lagi-lagi) TV ada berita demo tukang baso se-Bandung ke Gedung Sate, gedungnya para wakil rakyat daerah Jawa Barat. Mas Otong yang hitam gendut, sosoknya tidak tampak terselip muncul di layar. Para demowan dan demowati juga terlihat membawa banyak stok baso untuk mendaulat wakil rakyat menyantapnya. Gratis. 'Tumben', walaupun gratis, sampai liputan berakhir, sosok-sosok bersafari tidak ada yang tampak menyantap baso. Hanya tampak bergerombol berbicara menenangkan masa, mungkin dialognya begini;
"Tenang saudara-saudara, kami sebagai wakil anda, akan perjuangkan nasib para tukang baso!"
...(koor ramai-ramai) "Tutup saja TV yang menyiarkan baso tikus itu pak!!"
"Tenang saudara-saudara, semua ada aturannya, kami akan perjuangkan nasib para tukang baso!"
...(koor ramai-ramai) "Buktikan baso kami aman, ayo makan baso sama-sama, biar pada tau baso kami asli!"
"Maaf ehm... saya sudah makan, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya juga barusan makan, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya baru aja makan baso, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya ju... anu... asam urat, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya pegetariyat, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya dari kecil dilarang ibu jajan, mungkin rekan dewan saya ini mau mencoba" ('ngoper' mic) ...
"Maaf ehm... saya... saya... ba..ba...tu...werrrr...tuuiiiiit!!!... (nggak ada lagi yang bisa di'oper'in mic)

...(Lampu masih merah)
"Gimana bang, kok diyem aja sih? dienakin di mobil juga bisa kok, yuu?"
...(pencet-pencet radio, pokoknya sibuk)
(tetap di samping jendela dengan wajah masih juga merangsang)
...(IJO!!! dan yakin mobil bisa maju lancar, wajah menjulur keluar jendela) :"BANCI SIALaaan!!"
(kiss bye) "mmmuuaaahh!!"

Terorrr...rejing terojing terojing!

"Religious suffering is at one and the same time the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people." - Karl Marx.

Mencermati wajah dan pesan-pesan terakhir para pelaku bom Bali 2 dari vcd sitaan yang ditayangkan (lagi-lagi) oleh televisi, seolah mengingatkan dan menyadarkan bahwa 'enemy of the state' hari-hari belakangan ini di Indonesia bukanlah bom, terorisme atau malah fanatisme agama yang berlebihan. Kesimpulannya mudah, 'lawan' yang tampak jelas dan harus diberangus adalah kemiskinan dan kebodohan. Tayangan televisi tentang latar belakang mereka para 'suicidal bomber' umumnya sama; miskin dan karena kemiskinannya itu hanya mampu mengenyam pendidikan dengan kualitas yang kurang baik.

Sama halnya dengan manusia lainnya yang memiliki kebutuhan akan identitas diri sebagai kebutuhan tersier, mereka yang datang dari kalangan terdekap kemiskinan dan kebodohan juga berusaha mencari pengakuan identitasnya. Ketidak-mampuan memiliki benda fisik yang kini cenderung diidentikkan dengan identitas, menyebabkan ideologi datang sebagai benda tak berwujud yang muncul sebagai penawaran 'murah' dan 'mudah' bagi mereka. Belum luruh benar ingatan bangsa bahwa kemiskinan dan kebodohan pernah menjadi lahan subur bagi ideologi komunis. Masih jelas tertulis di berbagai buku-buku sejarah bahwa komunitas yang kelak bersekutu, merasa senasib sependeritaan sebagai bangsa bernama 'Indonesia', bangkit dengan ideologi kebangsaan, melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga dikarenakan rasa tertindas di bawah telapak kaki kebodohan dan kemiskinan. Ideologi kapitalis juga lahir dari kemiskinan dan kebodohan. Lahir dengan keyakinan bahwa ada kemakmuran dan kekayaan tanpa batas bagi siapapun yang bekerja keras dan belajar untuk memperolehnya.

Tren global hari ini, komunisme tidak lagi laku. Bila anda pekerja keras, bayangkan komunisme sebagai rekan usaha anda yang tidak pernah muncul membantu namun ada komitmen moral untuk tetap membagi keuntungan usaha dengannya, belum lagi ketika merugi, ia tidak dapat diminta berbagi (trust me, its sucks!!!). Selain itu, tidak ada konsep surga dalam komunisme, baik dunia maupun 'setelah dunia'. Kapitalis, meskipun menawarkan surga 'dunia', tidak berarti apapun bagi mereka yang tidak memiliki aset, modal dan kemampuan. Alternatif ideologi terakhir yang betul-betul termudah dan termurah untuk menyandarkan identitas diri adalah fanatisme agama.

Bagi mereka yang patah semangat, merasa tersisih di dunia, seperti mereka yang hidup di antara kemiskinan dan kebodohan, agama menawarkan surga 'setelah dunia' bila bersabar menghadapi 'neraka' dunia. Ia juga menawarkan kekayaan hati bila tak mampu mendapatkan kekayaan badan. Agama begitu sejuk menjadi tempat berteduh bagi mereka yang tersisih dan gagal menaungi diri di bawah indahnya atap dunia. Mungkin ini yang terjadi pada mereka yang martir meledakkan diri, agama dibawakan kepada mereka oleh sekelompok orang dengan kepentingan tertentu, yang entah untuk apa atau siapa, dipersempit dengan fanatisme sehingga tampak melulu menjadi ideologi 'setelah dunia' bagi mereka yang tertindas. Menjadi pembenaran bahwa kebenaran hanya milik mereka yang tersisih. Menjadi pembenaran untuk dapat membunuhi sesama. Menjadi pembenaran untuk meneriakkan kebesaran Tuhan ketika berniat menganiaya sesama.

Ideologi-ideologi besar duniawi seperti komunis, kapitalis, sosialis atau apapun namanya dengan segala konsep pembenarannya, tak berarti apapun ketika dibandingkan dengan keseimbangan yang ditawarkan agama; "kejarlah dunia seakan hidupmu abadi, kejarlah 'setelah dunia' seakan hidupmu segera berakhir". Bayangkan betapa mudahnya pemikiran Karl Marx dan Adam Smith lumat hanya oleh salah satu kalimat dari ideologi agama yang begitu luas dan indah. Sayangnya senantiasa berulang dalam sejarah betapa kebodohan senantiasa merusak keindahan. Agama yang begitu jelas menuntun 'berani hidup' untuk kemudian 'berani mati', dipersempit hanya untuk menjadi alasan 'berani mati'.

Kebodohan dan kemiskinanlah sejatinya terorisme.

NB : Tahukah anda, Adam Smith adalah seorang yang sangat religius ?

Tidak Pasti

(lagi-lagi) Dari TV. Bulan puasa ini seperti biasa, mendadak semua saluran tv menjadi ajang dakwah. Seperti pada satu malam, dari dua belas saluran tv, ada lebih kurang empat atau lima saluran yang sedang menyiarkan dakwah lewat ceramah. Ada yang dialog, ada yang duet dan ada yang solo. Sebetulnya saluran lain pun sedang mencoba 'berdakwah' lewat sinetron-sinetron konyol yang tidak lebih dari mendiskreditkan Allah daripada memuliakanNya. Allah digambarkan maha kejam dan maha 'senseless' lewat azab-azab yang seolah begitu mudah dihujamkanNya. Ucapan Allah maha Rahman dan Rahim (pengasih dan penyayang) yang diucapkan puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari setiap akan minum, makan, bekerja, bahkan ketika hanya membuka sebuah baut kecil atau mungkin ketika sekedar menancapkan fitting listrik ke stop kontak, menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh sinetron-sinetron tadi, kasih dan sayang digambarkan sudah berpindah dari tangan Allah kepada tadahan tangan ulama atau tokoh agama kelas lokal yang digambarkan tersedu-sedu memohon ampunanNya atas dosa-dosa sang pendosa. Hanya mengganti sosok peran pada film-film Indonesia tua dalam adegan sinyo kumpeni sedang menyiksa seorang lelaki kampung yang dicurigai sebagai inlander ekstrimis sementara istri dan anak dari lelaki kampung tadi menangis memohon ampun sambil memeluk kaki sang sinyo kumpeni. Konyol!!

Hell with those sinetron! Cukup tidak usah ditontonlah!

Kembali ke ceramah dakwah, da'i atau penceramah tv favorit saya adalah Bpk. Sanusi yang begitu lembut tapi tegas dan Q. Shihab yang begitu cerdas. Sayangnya mereka berdua tidak ada yang sedang muncul di tv malam itu. Saya pilih tonton da'i yang sedang bicara tentang moral dan kesabaran. Cukup menyejukkan hati.

Setelah selesai acara tersebut, dengan hati yang sejuk remote tv pun mulai ditekan-tekan mencari tontonan lain. Tak lama kemudian pada sebuah saluran tv tekanan pada remote terhenti sebentar. Ada yang aneh pada acara di saluran tersebut. Tidak seperti biasanya, pemandu acara berganti dari seorang gadis jelita menjadi jejaka legam. Setelah berpikir sejenak, mudah ditebak, kelihatannya penggantian ini demi suasana. Gadis jelita pembawa acara tidak ber-etnis yang berkonotasi 'puasa' sementara si jejaka legam sebaliknya. Genre acarapun tidak ada kaitan dengan puasa apalagi agama.

Hati yang sejuk menghangat kembali. Entah kenapa di negeri ini mudah sekali menjadikan sesuatu yang sebetulnya pasti menjadi tidak pasti. Mengapa heran ada segelintir orang yang martir sebagai teroris dengan dalih agama sementara televisi memanfaatkan agama sebagai dalih demi rating? Agama yang mutlak ke-pasti-annya pun menjadi tidak pasti, tergantung dengan dalih apa ia digunakan.

Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada ke-tidak pasti-an. Mulai dari utang kawan yang tidak pasti kapan dibayar, rekan usaha yang tidak pasti kapan muncul membantu, atau perek yang sudah mau naik ke mobil kita tapi tidak pasti bisa 'dipakai'. Semuanya sama saja menyebalkan.

Yang sedang anda baca saat ini cuma protes. Cuma ini yang bisa dilakukan. Apa sih yang bisa dilakukan di Indonesia saat ini selain protes? yang tidak protes sebetulnya hanya menunggu giliran untuk memiliki alasan protes. Ketidakpastian yang memastikan.

Niat, Kesempatan dan Kesempitan

Kejahatan dan kesuksesan adalah dua hal yang sama; terjadi bukan hanya karena ada niat tapi juga karena adanya kesempatan. Tambahan menurut saya, juga karena adanya sedikit 'kesempitan'. Bang Napi di TV rasanya pasti setuju.

Banyak orang bijak berkata bahwa orang yang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan yang mereka dapat. Kabarnya kesempatan tidak datang diundang, melainkan datang dengan sendirinya pada suatu waktu dalam hidup. Apabila kata 'chance' atau 'opportunity' diketikkan pada program "Word", lalu diproses dengan 'Thesaurus', maka akan muncul beberapa arti, menariknya salah duanya adalah 'luck' dan 'risk'. Jadi kesempatan bisa berarti sebuah keuntungan atau sebuah resiko. Apabila ada yang bertanya mengenai kesempatan, yang entah 'luck' atau 'risk', apa yang memiliki kesan kuat buat saya, maka saya akan segera teringat pengalaman sendiri bertahun lalu.

Kejadiannya sekitar pertengahan tahun 1993, karena saya teringat betul saat itu saya belum lama diterima di sebuah PTN jurusan akuntansi setelah mengikuti UMPTN yang kedua kalinya. Saat itu usia saya belum dua puluh tahun, begitu pula kisaran usia kawan-kawan pergaulan saya. Among the boys with those ages, selalu ada saja cerita tentang perempuan yang 'easy to be laid with' yang ternyata kelak setelah bertahun kemudian dihitung-hitung, kebanyakan cerita-cerita tersebut lebih banyak bualan , fantasi atau 'katanya temannya teman saya' belaka. Suatu waktu saya berkesempatan bertemu lalu dikenalkan oleh seorang kawan kepada salah satu dari 'cerita-cerita' tadi. Cukup cantik, angkatan kuliah satu tahun di atas, berkulit putih-mulus, tinggi langsing kira-kira 160an centimeter lebih sedikit, rambut kira-kira sebahu dengan model masa itu, dan baju yang dipakainya saat itu dapat memberikan gambaran bentuk tubuhnya. Memadai sebagai fantasi awal masturbasi.

Dari kawan yang memperkenalkan tadi, segala 'kabar baik' diceritakan, walaupun bukan ia yang melakukannya, cerita begitu lancar seolah ialah yang pernah melakukan pendekatan dengan menelepon, mengajak jalan-jalan, makan, 'dugem' dan terakhir menamatkannya di sebuah kamar hotel di Bandung utara dengan perempuan tadi. Sebagai remaja (bah!) pria normal dengan usia berkadar testosteron tertinggi sepanjang hidup, saya 'tertantang' untukmenjajal cerita tadi. Nomer telepon sudah di tangan dan the journey to fulfill the fantasy begin.

Setelah menge-set diri pribadi menjadi sosok yang konon diinginkan jenis perempuan tadi, petualangan diawali dengan telepon-telepon sekitar tiga kali dalam satu minggu. Kemudian saya berhasil mengajaknya jalan-jalan sekedar menyusuri pelosok Bandung di malam hari. Perjalanan dimulai di atas jam delapan malam mendekati jam sembilan karena saya tidak mau ambil resiko bertemu dengan pujaan hati lahir-batin yang biasanya tidak mungkin melakukan perjalanan malam di atas jam delapan. Rute favorit waktu itu harus melalui Jalan Dago, lalu 'legok surga' di Jalan Surapati, yaitu badan jalan yang turun amblas karena di bawahnya ada gorong air, yang apabila kita lewat dengan mobil di atasnya dengan kecepatan tinggi, akan menimbulkan efek geli bagi penumpang, cukup buat candaan awal. Dapat 'haha-hihi' diiringi tepukan sang perempuan ke lengan saya. Sukses! permulaan sentuhan fisik yang bagus. Kemudian efek horor dengan lewat Jalan Cipunegara di kawasan Jalan Citarum yang konon ada rumah bermumi. Di depan rumah yang dimaksud yang memang tampak gelap dan tak terawat, mobil dijalankan pelan-pelan. Dapat cengkeraman tangan ke lengan dan bahasa tubuh yang ingin merapat tapi terhalang tongkat persneling (denotatif), rem tangan dan tentunya jok mobil yang terpisah. Sukses! Lalu diulangi lagi dengan lewat papan iklan 'sunslik' di Jalan Progo yang konon bisa melirik. Dapat lagi! Sukses! Efek 'extreme games' didapat dengan lewat sebuah terowongan kecil di daerah belakang PT Dirgantara Indonesia, terowongan ini terbentuk oleh jalan tol Pasteur - Cileunyi yang lewat di atasnya dan menghubungkan sebuah jalan yang terputus oleh tol tersebut di kawasan kini Jalan Surya Sumantri. Terowongan ini begitu kecil dan hanya pas untuk satu mobil. Kaca spion luar Daihatsu Taft yang saya kendarai waktu itu hanya kira-kira 10 cm kurang dari dinding dalam terowongan, sementara sisi lainnya berupa trotoar tinggi dan dinding yang lumayan bila tertabrak. Cukup menegangkan apabila dilewati dengan kecepatan minimal 40 km/jam, kesannya beresiko menabrak di kedua sisi. Barangkali karena gelap dan mungkin dirasa menakutkan di malam hari, disana saya dapat cengkeraman dengan dua tangan. Sukses besar! Perjalanan diakhiri hampir tengah malam dengan mengantar pulang ke rumah kostnya di bilangan pusat kota.

Telepon keesokan harinya ditutup dengan kesimpulan 'last night was fun and looking forward to ride again with you' katanya. Sesuai pesan kawan saya tadi yang konon kata temannya temannya, 'kesuksesan' baru didapat setelah beberapa kali 'jalan' lalu diakhiri dengan 'dugem' yang berlanjut ke kamar hotel, kembali saya mengajaknya 'jalan' beberapa hari kemdian. Kali ini misinya makan malam, bukan 'makan malam' benar, tapi cukup di sebuah warung 'steak' kecil yang waktu itu belum banyak di Bandung. Saya ingat bajunya saat itu, rok lebar warna biru kotak-kotak berlipit sedikit di atas lutut, atasan tanpa lengan warna putih ditutup jaket wool warna biru tua. Sepatunya saya tidak ingat. Saya ingat lagi bahwa saya terpana melihat gayanya merokok marlboro light, its so sexy! Belum lagi sensasi melihat kemerahan sisa lipstick di bagian ujung filter rokok yang dijepitnya antara jari telunjuk dan jari tengah. So hot!

Perjalanan diakhiri dengan sedikit keliling kota lalu pukul 11 malam lebih kami sudah tiba di depan rumah kostnya. Mobil saya parkir depan pintu gerbang, mesin tidak dimatikan karena pada perjalanan sebelumnya saya cukup menunggu di dalam mobil sampai ia masuk ke gerbang lalu melihatnya masuk ke pintu rumah setelah sebelumnya melambaikan tangan dan kemudian saya pergi. Saat itu ia tampak kesulitan membuka gerbang, lalu kembali menghampiri ke mobil dan berbicara pada saya melalui jendela di sisi supir. Percakapan ini mungkin tidak akurat benar tapi kira-kira begini kejadiannya;

Saya : Kenapa?
Ia : Udah digembok euy, emang lupa pamit kalo mau pulang malam.
Saya : Gimana dong?
Ia : Ya nggak bisa masuk. Nginep di temen gua aja deh atau kita kemana gitu.

Entah karena alasan apa yang saya tidak pernah bisa mengingatnya sampai saat ini, saya turun dari mobil dan memeriksa pintu gerbang rumah kostnya itu. Tidak terkunci dan tidak ada gembok disana.

Saya : Ini nggak kekunci kok! (sambil saya buka sedikit pintu gerbangnya and feel like a hero)
Ia : Oh iya (sambil tersenyum)

Lalu ia masuk ke halaman, membuka kunci pintu rumah dengan kunci yang tampaknya ia miliki. Melambaikan tangan ke arah saya dan masuk ke dalam rumah. Saya pun naik kembali ke mobil lalu memulai perjalanan pulang. Tak perlu waktu lama sebelum saya menepuk dahi saya keras-keras dan berdesis keras "goobloook!!" Dan saya mulai mengalami 'kesempitan' celana karena membayangkan apa yang seharusnya saya dapat untuk melewati malam itu. Somehow, saya tidak pernah lagi bertemu dengan perempuan tadi. Cerita 'kesuksesan' 'temannya teman saya' dengan perempuan tadi masih sempat terdengar sampai beberapa tahun kemudian.

Menarik pula bahwa 'opportunity' menurut sang 'thesaurus' juga berarti 'freedom'. Sulit juga bagaimana cara mengaitkan arti 'kebebasan' dengan 'kesempatan'. Mungkin bila suatu saat datang sebuah pilihan besar dan kita bebas untuk memilih, maka saat itulah datang sebuah kesempatan.

Kira-kira dua tahunan setelah cerita di atas, saya memutuskan meninggalkan kuliah akuntansi. Sebetulnya pilihan berat. Saya 'kesempitan' waktu kala itu. Bukan karena juga kuliah di perguruan tinggi teknik, tetapi keinginan memiliki waktu untuk, let say, sosialisasi (boys will be boys, aren't they?). Saya harus pilih salah satu demi kelancaran hidup sosial. Pilihan terasa berat karena kedua pilihan sama tidak menyenangkan, llmu akuntansi yang begitu membosankan dan ilmu teknik yang tidak diminati. Saat itu tahun 1995, Bapak Pembangunan kita sedang sehat-sehatnya. Program PELITA selalu mencanangkan industri sebagai titik tujuan. Kabinet pembangunan selalu berisikan pejabat-pejabat bergelar keilmuan teknik rekayasa atau militer. Hanya segelintir saja dari ilmu sosial. Bisa ditebak karir keilmuan apa yang saat itu tampak lebih menjanjikan. Mantap, saya tinggalkan kuliah akuntansi. Cerita makro berikutnya semua sudah tahu, ekonomi negeri kolaps seiring runtuhnya bidang industri, terutama industri bidang teknik rekayasa yang saya tuntut ilmunya. Bapak Pembangunan 'lengser', memilih 'mandito' membimbing anak-anaknya.

Tentang kesempatan, rasanya tidak sulit kalau hanya sekedar memanfaatkannya apabila ia telah sampai di depan mata. Masalah terbesarnya adalah bagaimana mengenali bahwa telah datang sang 'kesempatan' pada kita suatu waktu. Saya tahu pernah gagal mengenalinya karena sampai hari ini, mengapa saya turun dari mobil malam itu dan mengapa saya memilih ilmu teknik masih terasa sama getir.

Seorang tua dan bijak pernah bicara bahwa kesempatan besar bagi seseorang hanya datang dua atau tiga kali dalam hidup. Melalui dua pengalaman tadi, rasanya saya sudah lewatkan satu. Entah yang mana.

Kenapa juga sih mesti turun dari mobil ?!!!!!!

Dari semua tokoh yang diceritakan di atas, hanya saya dan Bapak Pembangunan yang ikut 'friendster'. Kurang tahu juga kalau si Bang Napi.

Kantin Jepang 96

Kantin ini bernama 'Kantin Jepang 96', kantin jepang karena memang menyajikan berbagai masakan Jepang dimodifikasi agar lebih mudah dan murah diproduksi. Maklum, lokasinya bersebelahan dengan kampus jadi harus murah tapi meriah agar terkejar kocek mahasiswa dan mahasiswi.

Kami memulainya lebih kurang tahun 2000 dari nol, merubah halaman rumput menjadi hamparan tanah, menanam pondasi lalu mendirikan tiang-tiang kayunya. Sayangnya atap dirancang salah. Atap datarnya terlalu 'datar' sehingga daun-daun kecil yang seharusnya ikut luruh bersama siraman air hujan, semakin menumpuk dan menimbulkan genangan-genangan air sehingga saat hujan deras, kantin kami kadang bocor.

Bentuknya sederhana, bila anda masuk dari jalan raya tanpa trotoar pejalan kaki, anda harus menaikkan kaki ke dinding selokan, lalu naik kira-kira enam atau tujuh anak tangga sebelum sampai ke ruang makan. Ruang makan awalnya hanya berbentuk persegi panjang memanjang searah jalan masuk. Lantainya dari semen saja, diberi keramik-keramik kecil dan garis-garis dari taburan kerikil putih. Awalnya hanya ada delapan meja yang kemudian menjadi dua belas meja. Meja sederhana dengan bangku memanjang untuk dua orang tiap bangkunya. Sebelah kanan agak ke belakang, kami buat dapurnya. Satu kompor besar untuk menggoreng dengan banyak minyak, serta dua buah kompor 'cartridge' untuk memasak 'pan fried'. Di seberang area kompor ada meja cuci. Di antara meja cuci dan meja kompor diletakkan meja saji, tempat persiapan makanan yang sudah dimasak untuk dituangkan ke piring-piring yang disiapkan di atasnya kemudian disajikan ke pelanggan.

Untuk membatasi ruang luar dengan ruang makan, digantungkan tirai-tirai bambu dengan variasi lubang. Tak lupa lampion-lampion bulat dari kertas berwarna merah dan hijau untuk membungkus lampu-lampu yang kelak baru kami sadari indahnya nyala mereka ketika kantin buka pada malam hari dua tahun kemudian.

Sebagaimana namanya, kantin menyajikan masakan Jepang, mulai dari Teryaki, Yakiniku, Sukiyaki, Tempura, dan aneka Katsu. Teryaki, Yakiniku dan Sukiyaki dibuat dari 'basic sauce' yang sama, kombinasi 'soyu' atau kecap asin ala Jepang yang diramu dengan berbagai bahan lain, diantaranya rebusan jahe dan bawang. Rasanya lebih manis dari rasa aslinya, kadang disebut semur oleh mereka yang mengharapkan rasa asli ketika datang makan ke kantin kami. Tapi tidak sedikit pula yang sebelumnya tidak menyukai masakan Jepang kemudian menyukai masakan Jepang versi kami.

Masakan favorit adalah aneka katsu. Disediakan mulai dari ayam, daging sapi hingga aneka seafood. Selain itu ada makanan lain yang cukup menjadi ikon yaitu 'kaki age' atau bala-bala ala Jepang yang berbentuk gorengan kering adonan tepung dengan aneka sayur beserta potongan udang dan cumi. Gurih dan renyah. Banyak pula yang lebih menyukai masakan Jepang versi kantin kami dibanding versi sebuah restoran jepang cepat saji yang terkemuka. Menurut mereka gorengan 'katsu' kami lebih kering, renyah dan gurih. Teryaki dan Yakiniku kami lebih kental aroma lokalnya, mungkin dikarenakan penambahan kecap manis pada 'basic sauce' yang membuatnya lebih dekat dengan lidah penggemar masakan Indonesia. Acar, salad serta adonan mayonaise yang menyertainya konon lebih natural daripada yang didapatkan di restoran jepang cepat saji tadi.

Semenjak hari pertama dibuka, tamu langsung ramai, bahkan karena kewalahan, pekerja yang semula dianggap cukup dengan hanya tiga orang, makin lama makin bertambah hingga pernah mencapai jumlah tujuh orang dalam satu shift kerja. Jumlah tamu terbanyak bila dilihat dari jumlah porsi dipesan, pernah mencapai dua ratusan, sangat banyak untuk sebuah kantin kecil dengan meja sebanyak dua belas buah atau empat puluh delapan kursi dan dengan jam buka yang hanya dimulai dari pukul sepuluh siang sampai jam empat sore. Jam saat itu berlalu sangat cepat bagi semua yang bekerja, kesibukan melupakan ingatan dari waktu.

Mulai hari ini, lima tahun kemudian semenjak kantin ini dibuka, anda tidak akan lagi menemukan kami. Hari ini hari terakhir kami buka dan melayani. Karena sesuatu hal, kami harus menutup tempat ini. Kami tidak menyukainya tapi harus melakukannya.

Meja dan kursi segera kami angkat, lampion dan tirai bambunya sudah kami kemasi. Tangga dengan enam atau tujuh anak tangga, lantai bergaris kerikil putih, tiang-tiang kayu coklat dan atap yang terlalu datar mungkin akan dibongkar oleh pemilik barunya. Entah dengan tiga buah pohon cemara jarum yang sudah lebih dulu tumbuh tinggi di samping ruang makan.

Untuk para mahasiswa-mahasiswi Universitas Parahyangan Bandung, dan para alumninya yang mungkin selama lima tahun ini pernah menyempatkan diri mampir ke kantin kami, kami ucapkan pamit. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk melayani anda, bila ada kekurangan kami mohonkan maaf, bila ada kelebihan kami mintakan sedikit tempat dari kenangan anda akan kami. Rasa masakan dan wajah-wajah kami akan dapat dijumpai di lain tempat dan waktu, tapi gambaran ruang dari tempat kantin kami berdiri kini cuma tinggal ingatan. Mungkin indah buat yang pernah menjalin tali kasih atau berinteraksi sosial di ruang makan kami sehingga kadang membuat para pegawai kami tidak dapat pulang pada waktunya atau buruk bagi yang memutuskan cinta juga di tempat kami, sehingga membuat kasir kurang enak hati menagih pembayaran dari perempuan yang tengah menangis atau lelaki yang tengah emosi.

Sekali lagi kami dari 'Kantin Jepang 96' di Jl Ciumbuleuit nomer 96, Bandung, mohon pamit.

Ambarawa

Dalam suasana lebaran tahun ini, kembali saya tidak 'mudik' ke Ambarawa untuk berlebaran. Mungkin karena status saya yang dulu 'anak' kini sudah otonom menjadi 'suami' dan juga 'ayah'. Dulu, keluarga dimana status saya masih sebagai 'anak', senantiasa pulang berlebaran ke Ambarawa, kampung halaman ayah saya. Bukan karena alasan 'patrilineal', tapi karena keluarga dari ibu walaupun berasal dari daerah pantai utara jawa tengah, semenjak 1930'an sudah tinggal di Jakarta maka berarti tidak ada istilah 'mudik' jika berkumpul berlebaran di Jakarta dengan keluarga ibu.

Tentang Ambarawa, kota ini kecil saja kalau tidak salah sebuah kota kecamatan. Berkembang sepanjang jalur jalan raya antara Semarang dan Yogyakarta. Lebih detailnya antara Ungaran dan Magelang. Jarak pasti dari Semarang tidak tahu benar, tapi kira-kira setengah jam perjalanan di luar kemacetan. Hitung-hitungan dengan rata-rata kecepatan kendaraan 60 km/jam, mungkin jarak dari Semarang ke Ambarawa sekitar 30 km.

Kecuali yang tinggal di sekitar Ambarawa, orang mungkin hanya mengenal Ambarawa lewat Museum Kereta Api atau Palagan Ambarawa begitupun jika anda meng'google' Ambarawa, hasilnya tidak jauh berbeda. Saya ingin cerita sedikit tentang kota kecil ini, pasti lebih lengkap daripada 'google' tapi pasti lebih awam atau malah mungkin berbeda daripada cerita mereka yang tinggal atau pernah tinggal disana. Tidak akan saya ceritakan tentang museumnya atau palagannya. Just 'google' it kalau anda ingin tahu.

Kesan paling kuat bila anda mampir dan menyempatkan diri tinggal beberapa hari di kota ini adalah waktu yang seolah tidak bergerak. Hampir tidak ada perubahan semenjak pertama saya 'mengingat' datang ke kota ini tahun 1980'an hingga terakhir berkunjung tahun lalu. Tidak hanya bentuk kota, irama pergerakan manusianya juga tetap sama. Melihat jenis mobil keluaran terbaru yang lalu lalang lewat di jalan antar kotanya merupakan satu-satunya hal yang mengingatkan bahwa waktu juga bergerak di kota ini.

Kalau di internet disebutkan bahwa hawa kota ini segar layaknya hawa pegunungan, kabar itu bohong besar. Memang posisi kota ini ada di punggung sebuah gunung, tetapi hawanya sama sekali tidak segar, cenderung menyesakkan buat saya yang terbiasa dengan hawa gunung di kota Bandung. Mungkin akibat kelembaban tinggi yang disebabkan keberadaan sebuah danau besar yang secara geografis berada di bawah kota Ambarawa. Akibat kondisi ini pula, konon penyakit umum yang diderita penduduk kota ini adalah gangguan pernafasan.

Mungkin keberadaan danau tadi pula yang dulu memberi ide penamaan kota. 'Amba' berarti luas dan 'rawa' yang berarti genangan air. Cerita rakyatnya, danau ini adalah hasil genangan air yang keluar dari sebuah lubang bekas tancapan sebatang lidi. Saya tidak ingat benar, tapi cerita rakyat ini juga menceritakan tentang seekor ular besar yang merupakan anak dari seorang pembesar. Ketika mencari pengakuan dari ayahnya, sang ayah meminta ular tadi melingkarkan tubuhnya mengelilingi sebuah gunung. Kelak setelah bertapa bertahun-tahun, ketika ular tadi mencoba melingkari gunung dengan tubuhnya, panjangnya kurang sedikit dan kemudian lidahnya dijulurkan untuk menyentuh ujung ekornya. Sayang seribu sayang, sang ayah malah memotong lidahnya. Tokohnya bernama Baru Klinthing, tetapi kaitan ular tadi dengan lidi yang ditancapkan tidak saya ingat lagi. Konon lagi, potongan lidah ular tadi menjelma menjadi sebuah mata tombak yang kini tersimpan di kraton Yogyakarta.

Memasuki Ambarawa dari arah Semarang dimulai dari persimpangan Bawen, yang bila terus ke selatan akan menuju kota Salatiga kemudian seterusnya ke Surakarta, berbelok ke barat akan menuju Magelang dengan sebelumnya melalui Ambarawa. Ciri khas dimulai dengan melewati sebuah pekuburan cina besar yang berhadapan dengan pasar hewan yang besar pula. Di hari tertentu, pasar hewan akan penuh oleh aneka ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Sedikit berkelok, dengan pemandangan sawah di kiri dan kanan jalan dengan latar belakang gunung mengerucut, akhirnya akan memasuki jalan kota yang lurus khas kota-kota di Jawa Tenga. Bersih, trotoar lebar dan sesekali pot-pot tanaman besar. Tak lama jalan melalui pasar. Sangat macet dari pagi hingga sore. Maju sedikit ada sebuah persimpangan, lalu maju sedikit lagi akan menemui sebuah jembatan besar kemudian sebuah persimpangan lagi yang disana terletak monumen Palagan Ambarawa, berbelok ke kanan dan keramaian kota akan diakhiri sebuah gereja besar dengan patung ayam jago logam di puncak menaranya. Habis sudah kota Ambarawa. Keramaian lebih kurang sepanjang dua kilometer saja.

Di Ambarawa hanya terdapat dua pasar besar sepanjang jalan raya tadi, yang satu saya lupa namanya, dan yang satu bernama pasar 'Lanang'. Menurut ayah saya, di pasar-pasar inilah dijual peralatan pertanian tradisional yang tinggi kualitasnya. Terutama pacul dan gagangnya. Pacul dari daerah ini cukup khas terutama bila dibandingkan dengan pacul di Jawa Barat. Bentuk mata paculnya lebih pipih atau persegi panjang dengan bentuk lebih memanjang dari mata pacul umumnya yang hampir berproporsi bujursangkar. Gagang dan mata pacul bersudut kecil, lagi-lagi tidak serupa dengan pacul umum yang sudut antara gagang dan matanya bersudut hampir 90 derajat. Menurut ayah yang masa kecilnya hidup susah sehingga memiliki pengalaman berpacul dalam derita, bila terbiasa memakai pacul jenis ini, akan sangat melelahkan bila menggunakan pacul bersudut lebar. Selain alat pertanian, alat rumah tangga tradisional juga menarik untuk diperhatikan, barang-barang dari gerabah atau anyaman bambu dengan bentuk khas masih terlihat bergelantungan bersaing dengan barang-barang plastik.

Bila pulang ke Ambarawa, kami menghabiskan waktu lebih kurang satu minggu. Hampir tidak pernah kami pergi berwisata ke tempat-tempat yang disebut sebagai tempat tujuan wisata Ambarawa seperti Museum K.A., Monumen Palagan, Danau yang bernama Rowo Pening, atau napak tilas jalur K.A. bergerigi yang konon salah satu dari dua saja rel sejenis di Indonesia. Kami lebih semangat untuk berwisata kuliner. Ada beberapa makanan yang terdapat di Ambarawa, hampir tidak dapat ditemui di tempat lain.

Bagi saya yang paling istimewa adalah ketupat tahu campur 'Pak Samino', letaknya di sebuah jalan setelah berbelok ke selatan dari pertigaan pertama yang ditemui dari arah Semarang. Warungnya kecil saja, tidak lebih dari empat kali empat meter. Ketupat tahunya sangat khas, terutama bumbu cair manis dengan tumbukan kacang tanahnya, bila agak siang, masih kebagian sedikit potongan semacam bakwan di atasnya. Rasanya luar biasa, ketupatnya wangi, irisan kolnya masih segar, lalu tahunya dalam kondisi 'medium rare', terlebih bila dipesan pedas kemudian ditemani kerupuk 'kampung'. Tahu campur jawa (tengah) yang menjadi genre-nya, tidak saya temukan yang lebih enak di tempat lain, meskipun di warung tahu campur yang konon terenak di Yogyakarta. Hambar saja bila dibandingkan racikan 'Pak Samino'.

Berikutnya adalah warung makan 'Bu Sri' letaknya sedikit ke utara dari arah warung tahu campur 'Pak Samino', masakannya sederhana, yaitu masakan-masakan cina yang diadopsi lidah jawa berupa nasi goreng, mi goreng atau bihun dan lain-lain. Kekhasannya pada bumbu dan aksesori jeroannya. Entah karena ada pasar ternak di kota ini, tampaknya jeroan sangat berlimpah dan digemari dibandingkan dagingnya sendiri. Nasi goreng babat ususnya belum saya temukan padanannya di tempat lain. Ada lagi bakso kakap yang konon sangat nikmat, tetapi saya yang tidak menyukai makanan laut tidak tahu apa kelebihannya, bagi anggota keluarga lain, bakso kakap ini tidak pernah dilewatkan.

Serabi tradisional yang dijual di pinggir jalan pun memiliki kekhasan dibanding serabi di tempat lain. Rasanya didominasi gurihnya serpihan kelapa dan bumbunya betul-betul manis gurih tanda kemurnian gula merahnya. Mungkin inilah resep asli kue serabi.

Terakhir yang memang belum pernah saya jumpai di tempat lain adalah 'pecel semanggi'. Saya lebih senang menyebutnya pecel 'kere' karena konon inilah pecelnya orang miskin di sana, dedaunan di dalamnya tidak ada yang dijual di pasar karena tidak memiliki nilai jual dan karenanya, aneka sayur di dalamnya konon dipetiki sendiri dari tanaman kebun dan tanaman liar atau pagar. Daun yang saya kenali cuma daun semanggi. Daun lainnya tidak saya kenali. Satu porsinya ditemani ketupat kecil yang berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisi lebih kurang empat atau lima centimeter, tebal lebih kurang satu centimeter. Bungkusnya pun entah daun apa. Teman lainnya adalah tempe 'gembos' goreng, lagi-lagi tempe 'kere' karena dibuat dari sisa ampas tahu. Setelah disajikan di atas selembar daun jati atau malah mungkin daun randu, racikan sayur tadi disiram saus kacang kasar untuk kemudian dimakan dengan 'pincuk' atau daun yang dilipat sebagai sendok. Tahun lalu harganya hanya Rp. 250,- per porsi. Saya anggap cukup bila sudah mengkonsumsi tiga atau empat bungkus. Istimewanya, pedagangnya datang membawa pikulan gendong layaknya tukang jamu di halaman rumah, 'delivery service' dipadu dengan 'fresh cooked by order'.

Bicara kemiskinan, penduduk pedesaan di sekitar kota Ambarawa didominasi buruh tani yang kelihatannya cukup banyak yang hidup di bawah batas garis kemiskinan. Mengherankan bila kemudian kekurangan ini tampaknya mereka anggap sebagai kebersahajaan dibanding kemiskinan. Saya banyak melihat mereka yang kekurangan menyikapi hidupnya dengan 'nrimo' dan tampak bahagia. Masih banyak senyum dan sapaan akrab di antara mereka. Tapi itu bertahun lalu, entah hari ini dengan himpitan ekonomi yang makin berat.

Bila anda penggemar produk 'bakery' dan 'pastry' sempatkan mampir ke toko roti 'Pauline' tepat di seberang persimpangan jalan menuju kota wisata Bandungan dari Ambarawa. Saya kurang paham bagaimana menjelaskan kekhasannya, tetapi kenikmatan khas roti kelapa, roti susu dan roti basonya, tidak dapat ditemui pada roti produksi tempat lain.

Selain kulinari, kekhasan Ambarawa adalah buah-buahan yang istimewa. Terutama kelengkengnya, tidak ada yang menyamai kualitasnya. Kelengkeng Ambarawa sangat enak, aromanya sangat kuat dan manis, walaupun dagingnya tidak tebal. Berbeda dengan kelengkeng impor dari Cina yang berdaging tebal, manis namun hambar. Dengan banyaknya pohon-pohon kelengkeng ini, madu dari Ambarawa menjadi sangat istimewa, karena lebahnya menghisap sari bunga kelengkeng. Jauh lebih nikmat dari madu manapun di Indonesia yang merupakan sari bunga hutan atau kapuk seperti di Indonesia timur.

Buah lain yang istimewa adalah nangka dan sawonya, rasanya begitu kuat di samping manisnya, sangat berbeda dengan buah serupa dari daerah lain yang mungkin manis, tapi hambar rasanya. Tempat membeli buah-buah ini umumnya di sepanjang jalan setelah kota Ambarawa ke arah Magelang, atau tepatnya di daerah 'Jambu', yang dari namanya saja sudah cukup 'buah'. Biasanya kita bisa juga membeli di kelas pengumpul atau malah pemilik pohon buahnya bila waktunya tepat saat pemetikan.

Satu kekhasan lain dari kota Ambarawa ini, hampir seluruh prianya merokok! Tidak peduli datang dari golongan mana. Rokok yang termurah mulai dari kelas rokok jagung sampai sigaret kretek lalu tembakau linting yang pedagangnya banyak ditemui di berbagai penjuru kota.

Jangan bayangkan kota ini sebagai kota romantis untuk 'rendesvouz', bilapun ada, di utara kota Ambarawa terdapat lokasi wisata pegunungan Bandungan, dan sebuah kompleks candi bernama 'Gedong Songo'. Secara visual, lokasinya memang romantis, pegunungan berhawa dingin dengan panorama danau menghampar di bawahnya, tapi awas, legenda mengatakan, siapapun yang memadu kasih di kompleks candi 'Gedong Songo' akan segera bubar kisah kasihnya.

Bila kebetulan anda kelak mampir ke kota Ambarawa, selain tujuan wisata utamanya, sempatkan naik andong atau delman untuk berkeliling kota. Silakan buktikan bagaimana 'waktu' berhenti di kota Ambarawa.

Gambaran saya barangkali tidak seindah gambaran orang lain akan kota-kotanya masing-masing tempat tujuan kemana mereka 'pulang'. Kebutuhan akan oase sosio-spiritual untuk 'pulang' dan menyandarkan identitas diri di sana selalu menjadikan gambaran 'rumah' begitu indah, mungkin jauh lebih indah dari realitanya. Bila ini yang terjadi dari cerita saya, saya mohon maaf.

Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Friends Habis

"Friends" Habis! Ya Habis!! Mungkin 'Its very very out of date' buat sebagian kalian, tapi saya belum lama selesai nonton VCDnya, 'season 10', 'episode 17-18', mereka keluar dari apartemen yang sudah kosong, berbalik memunggungi saya dan 'fade out' jadi hitam. Tanpa epilog lucu seperti biasa. Tiba-tiba 'waktu' jadi berarti, betul, 'waktu' atau 'time' dalam bahasa inggris, sering ditulis 't' dalam berbagai rumus.

Ini kali kedua 'waktu' tiba-tiba berarti buat saya dalam 1 atau 2 bulan ini. Yang pertama sewaktu ibu saya menyodorkan sebotol saus 'spagheti' baru pada ayah untuk dibuka. Ayah saya mencoba memutar tutupnya sebentar tapi botol tidak terbuka, dia sodorkan pada saya "nih, tolong bukain", saya ambil, saya putar tutup logam hampa udaranya dan "pop!" tutup itu terbuka dan bentuknya berubah menjadi gembung tanda angin sudah masuk. Cukup keras, tapi saya kuat membukanya, saya berikan pada ayah saya dan dia terima tanpa bicara atau ekspresi apapun, mengambil sendok, lalu mulai mengambil isinya sambil setengah memiringkan botol itu di atas piringnya. Saya tertegun sebentar, puluhan tahun lalu adegan ini pernah terjadi, tapi waktu itu saya yang minta tolong pada ayah membukakan sebuah botol bertutup logam yang harus diputar untuk dibuka, entah botol apa saya lupa dan dulu ayah saya dengan mudah membukanya.

Kembali ke 'friends', berarti sudah tidak ada lagi pertanyaan ke penjaga rental tentang vcd 'friends' terbaru, atau kapan vcd 'friends' episode sekian akan kembali dari penyewa lain, tidak ada lagi obrolan dengan Sani tentang kapan atau apa cerita 'friends' yang terbaru muncul serta tidak ada lagi sms ke Sani menanyakan kapan adiknya kirim rekaman 'friends' terbaru yang direkam lewat 'high speed internet' di Eropa.

Setiap nonton 'friends' entah kenapa selalu larut, mungkin saya merasa gaya banyolan mereka sama dengan yang saya lakukan di rumah antar tetangga, atau mungkin impian saya terhadap gaya hidup mandiri dan bebas seperti yang mereka gambarkan, atau mungkin bagaimana beragam masalah mereka yang 'solved' dalam satu atau kadang dua episode saja. Saya tidak tahu. Yang pasti saya tahu, rasa penasaran tiap setel VCD 'friends' terbaru tidak akan ditemukan lagi.

Bottomline buat saya, 'those damn bloody f#@king time is ticking!!', ternyata saya sudah belasan tahun lebih tua sejak 'friends' pertama kali diputar dan ayah saya tak kuat lagi membuka botol saus 'spaghetti' impor.

Time sucks! but school are more.