Sunday, December 03, 2006

Tidak Pasti

(lagi-lagi) Dari TV. Bulan puasa ini seperti biasa, mendadak semua saluran tv menjadi ajang dakwah. Seperti pada satu malam, dari dua belas saluran tv, ada lebih kurang empat atau lima saluran yang sedang menyiarkan dakwah lewat ceramah. Ada yang dialog, ada yang duet dan ada yang solo. Sebetulnya saluran lain pun sedang mencoba 'berdakwah' lewat sinetron-sinetron konyol yang tidak lebih dari mendiskreditkan Allah daripada memuliakanNya. Allah digambarkan maha kejam dan maha 'senseless' lewat azab-azab yang seolah begitu mudah dihujamkanNya. Ucapan Allah maha Rahman dan Rahim (pengasih dan penyayang) yang diucapkan puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari setiap akan minum, makan, bekerja, bahkan ketika hanya membuka sebuah baut kecil atau mungkin ketika sekedar menancapkan fitting listrik ke stop kontak, menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh sinetron-sinetron tadi, kasih dan sayang digambarkan sudah berpindah dari tangan Allah kepada tadahan tangan ulama atau tokoh agama kelas lokal yang digambarkan tersedu-sedu memohon ampunanNya atas dosa-dosa sang pendosa. Hanya mengganti sosok peran pada film-film Indonesia tua dalam adegan sinyo kumpeni sedang menyiksa seorang lelaki kampung yang dicurigai sebagai inlander ekstrimis sementara istri dan anak dari lelaki kampung tadi menangis memohon ampun sambil memeluk kaki sang sinyo kumpeni. Konyol!!

Hell with those sinetron! Cukup tidak usah ditontonlah!

Kembali ke ceramah dakwah, da'i atau penceramah tv favorit saya adalah Bpk. Sanusi yang begitu lembut tapi tegas dan Q. Shihab yang begitu cerdas. Sayangnya mereka berdua tidak ada yang sedang muncul di tv malam itu. Saya pilih tonton da'i yang sedang bicara tentang moral dan kesabaran. Cukup menyejukkan hati.

Setelah selesai acara tersebut, dengan hati yang sejuk remote tv pun mulai ditekan-tekan mencari tontonan lain. Tak lama kemudian pada sebuah saluran tv tekanan pada remote terhenti sebentar. Ada yang aneh pada acara di saluran tersebut. Tidak seperti biasanya, pemandu acara berganti dari seorang gadis jelita menjadi jejaka legam. Setelah berpikir sejenak, mudah ditebak, kelihatannya penggantian ini demi suasana. Gadis jelita pembawa acara tidak ber-etnis yang berkonotasi 'puasa' sementara si jejaka legam sebaliknya. Genre acarapun tidak ada kaitan dengan puasa apalagi agama.

Hati yang sejuk menghangat kembali. Entah kenapa di negeri ini mudah sekali menjadikan sesuatu yang sebetulnya pasti menjadi tidak pasti. Mengapa heran ada segelintir orang yang martir sebagai teroris dengan dalih agama sementara televisi memanfaatkan agama sebagai dalih demi rating? Agama yang mutlak ke-pasti-annya pun menjadi tidak pasti, tergantung dengan dalih apa ia digunakan.

Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada ke-tidak pasti-an. Mulai dari utang kawan yang tidak pasti kapan dibayar, rekan usaha yang tidak pasti kapan muncul membantu, atau perek yang sudah mau naik ke mobil kita tapi tidak pasti bisa 'dipakai'. Semuanya sama saja menyebalkan.

Yang sedang anda baca saat ini cuma protes. Cuma ini yang bisa dilakukan. Apa sih yang bisa dilakukan di Indonesia saat ini selain protes? yang tidak protes sebetulnya hanya menunggu giliran untuk memiliki alasan protes. Ketidakpastian yang memastikan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home