Sunday, December 03, 2006

Lakon Mbah Bumi Pensiun

Mbah Bumi, nyawa sang dunia-pemutar rotasi bumi, tergopoh-gopoh naik ke atas langit. Hak protokolernya cuma sampai langit ke enam.

"...Kawulo menghadap Gusti..." sambil menekan tombol interkom menghubungi penghuni lapis langit ke tujuh.

"Ono opo?" sahut suara di balik sana.

"...Kawulo menyerah Gusti..." sahut mbah Bumi lesu.

"lah dhalah... ono opo maneh tho? 2 Milyar tahun ta'pasrahi planet ciptaan yang paling indah kok malah menyerah barang kuwi ono opo?" tanya suara di balik interkom lagi.

"...Sudah mboten sanggup Gusti... dawuh Gusti untuk memberi cobaan dan peringatan pada penghuni kesayangan-Mu tidak ada hasilnya..." jawab mbah Bumi lagi sambil jari telunjuknya sedikit bergetar menekan tombol interkom. "10 ribu tahun terakhir memelihara khalifah titipan Gusti betul-betul berat, tahun-tahun belakangan mereka tidak sama lagi Gusti... terutama niku engkang diciptakan dengan kulit sawo matang"

"Tidak sama piye tho... wong ndak ada revisi buat mereka, tetap versi 1.0 seperti mbah-mbahnya dulu"

"...ngampuro Gusti, tapi betul-betul berbeda. Cobaan dan peringatan Gusti lewat kawulo sudah tidak berarti" sergah mbah Bumi.

"leh... leh... leh... tidak berarti piye tho kowe ki... mosok iya cobaan dan peringatan sudah tidak berarti?"

"...ngampuro Gusti, tapi begitu keadaannya, kawulo betul-betul menyerah dan minta pensiun" pasrah mbah Bumi lagi.

"Memang kowe beri cobaan bencana apa? longsor? banjir? angin ribut?" tanya suara dari interkom.

"...sampun Gusti, cuma sadar satu-dua hari setelah itu nyeleweng lagi, ndak sungkan makan hak orang lain"

"leh! sudah dicoba dengan gempa?" tanya suara dari interkom lagi.

"...sampun Gusti, sudah bonus tsunami. Malah lebih banyak yang bergembira tertawa-tawa dapat proyek bencana"

"Weleh! sudah dicoba dengan mbledhosi gunung?" tanya suara itu lagi.

"...sampun Gusti, sudah bonus wedus gembel sekaligus gempa bumi. Ndlalah malah lebih girang korupsi dana bencana, tidak perlu jauh korupsi menyeberang laut. Belum lagi kuncen kesayangan kawulo malah jadi hedon rekso-rekso Gusti..." keluh mbah Bumi.

"weleh! weleh! wis dicoba buang hajat isi perutmu ke atas bumi?" "Dulu kan bisa membuat kapok mereka" saran suara dari interkom.

"...nyuwun pangapunten Gusti, memang dulu sewaktu kawulo mengutus Nogo Baru Klinting melubangi bumi dengan lidi di tengah negeri orang serakah tanpa welas asih, lalu dari lubang tadi kawulo buang hajat membanjiri mereka, memang mereka bertobat. Berubah jadi bangsa welas asih..." jawab mbah Bumi.

"Nah bener tho! ngono wae kok repot!" tukas suara dari interkom.

"...nyuwun pangapunten Gusti, sebelum kawulo sempat mengirim utusan melubangi bumi, mereka malah sudah lebih dulu mengirim Ulo Bakery Klinting, menggali lubangnya lebih dalam Gusti... nyaris mengenai prostat kawulo" jawab mbah Bumi lagi.

"weleh! weleh! weleh! njur terus piye?"

"...ngampuro Gusti, inggih medhal sedoyo hajatipun kawulo, lebih banyak dari dulu"

"weee... yo apik mestine pada kapok tho yang pada serakah?" tanya suara dari interkom itu lagi.

"...ngampuro Gusti, tidak kapok, yang terkena hajat kawulo malah yang tidak ikutan kebagian hasil keserakahan, yang serakah malah bisa menghindar tidak kena hajat"

"weleh! Kok iso?" tanya suara dari interkom itu lagi, sedikit tinggi nadanya.

"...ngampuro Gusti, mboten ngertos sanget, mereka punya ritual menghindar, namanya lelakon divestasi Gusti..."

"Edhan! opo maneh kuwi?"

"...nyuwun pangapunten Gusti, mboten ngertos kulo" jawab mbah Bumi. Jarinya sudah semakin bergetar kelelahan di tombol interkom.

"Ya wis, coba cara sedikit halus, tumbuhkan bisul bunga-bunga bangkai berbau busuk sebagai firasat bahwa kowe sedang ngambek" perintah suara interkom sedikit tenang.

"...nyuwun pangapunten Gusti, sampun dilakukan atas inisiatif kawulo, malah lebih banyak dari biasanya. Satu tempat ada yang kawulo tumbuhi sampai empat bunga bangkai. Mestinya sudah bau banget Gusti..."

"Lha terus piye?"

"...ngampuro Gusti, malah masuk tivi, dikerubungi, dipageri tali rafia lalu ditariki karcis masuk" jawab mbah Bumi.

"Pancen edhan nek ngono! Ya wis kalo kowe kepengen pensiun silakan, nanti biar disiapkan tempat di langit ke dua"

"...nyuwun pangapunten Gusti, apa nanti disiapkan juga tunjangan rumah mewah, kendaraan, kavling, vakantie dan seratus kali lipat tunjangan bulanan?" tanya mbah Bumi sedikit ragu.

"He?! apa lagi tho itu?" tanya suara di interkom heran.

"...ngampuro Gusti, disebatipun hak pensiun eksekutif, legistatif dan yudikatif seperti kebiasaan mereka Gusti..." jawab mbah Bumi menjelaskan.

"Weh... Weh... Weh... jebule kowe yo wis melu edhan tho!!!"

Lalu interkom dimatikan dari dalam.

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

dongeng yang keren..

11:08 AM  

Post a Comment

<< Home